RADARINDRAMAYU.ID – Kemerdekaan bagi Ahmad Khoeri bukan sekadar cerita masa lalu tentang perjuangan fisik. Baginya, kemerdekaan adalah terbukanya ruang untuk belajar, berpikir, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh guru lulusan S1 UIN Jakarta dan S2 UGJ Cirebon ini, yang kini aktif sebagai pegiat literasi, pengelola Perpustakaan S16, Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpusnas RI Lokus Indramayu, serta pemerhati budaya lokal di Kabupaten Indramayu.
Gizi Intelektual Sama Pentingnya dengan Gizi Fisik
Ahmad Khoeri memandang bahwa inti dari kemerdekaan adalah kesempatan untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Menurutnya, pemenuhan gizi intelektual masyarakat sama krusialnya dengan kebutuhan fisik harian.
“Jika di rumah sakit ada apotek, maka di sekolah ada perpustakaan. Jika di rumah sakit ada obat, maka di sekolah ada buku. Maka, marilah sadar secara kolektif bahwa asupan gizi dari tenggorokan ke kepala juga lebih penting selain asupan gizi dari tenggorokan ke perut,” ujarnya.
Baca Juga:Damkar Indramayu Edukasi Pengelola dan Pemulung TPA PecukBupati Majalengka Lepas 25 Pemain Persima U-17, Targetkan Empat Besar Piala Soeratin 2026
Baginya, membangun ekosistem literasi dari desa merupakan langkah nyata dalam mengisi kemerdekaan, salah satunya melalui pengabdian di dunia pendidikan dan gerakan literasi masyarakat.
Perpustakaan S16: Dari Kecintaan pada Buku Menjadi Ruang Belajar Desa
Sejak 2018, Ahmad Khoeri mengelola Perpustakaan S16 di Indramayu. Berawal dari kecintaan terhadap buku, perpustakaan ini kini berkembang menjadi ruang belajar desa dengan koleksi mencapai sekitar 10.000 judul buku. Ribuan buku itu menjadi jendela pengetahuan bagi warga desa yang selama ini memiliki akses terbatas pada bahan bacaan berkualitas.
Tak berhenti di dalam ruangan, gerakan literasi yang telah diinisiasi sejak delapan tahun tersebut kini menjangkau anak-anak dan sekolah-sekolah melalui program Gerakan Keliling Literasi menggunakan Perpustakaan Motor Literik (Pusmolis). Dengan motor yang membawa buku-buku pilihan, ia mendatangi desa-desa terpencil yang sulit dijangkau perpustakaan konvensional.
“Dari Indonesia, membaca menuju Indonesia menulis. Prinsip saya, kalau masyarakat belum bisa datang ke perpustakaan, maka buku yang harus datang mendekati mereka,” tegasnya.
Apresiasi Nasional untuk Konsistensi Literasi
Konsistensi dan kontribusinya pada gerakan literasi membuahkan berbagai apresiasi nasional. Di antaranya Nusantara CSR Awards 2025 untuk program Kampung Literasi dan Pusmolis S16, serta penghargaan Guru Berdaya Kategori Guru Pegiat Literasi dari ACF Eduhub dalam acara Education Outlook 2026. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa dedikasi seorang guru di pelosok Indramayu mampu memberikan dampak yang diakui hingga tingkat nasional.
