Pesan Damai di Balik Denting Gamelan, Diplomasi Kultural Wali Songo yang Bertahan Ratusan Tahun

Gong Sekati
GONG SEKATI: Keraton Kanoman Cirebon membersihkan Gong Sekati, instrumen dakwah bersejarah peninggalan abad ke-15, Sabtu (22/8/2026), menjelang prosesi Awit Mungel. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Keraton Kanoman Cirebon kembali membersihkan salah satu instrumen dakwah bersejarah peninggalan abad ke-15, Gong Sekati. Ritual pencucian gamelan pusaka menjelang prosesi Awit Mungel ini menjadi pengingat jejak panjang dakwah kultural para Wali Songo yang tetap bertahan di tengah arus modernisasi.

Pengguanaan seni sebagai media dakwah oleh Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga pada masa awal penyebaran Islam di Tanah Jawa dinilai sebagai pendekatan yang efektif dan diterima masyarakat. Saat itu, mayoritas masyarakat Jawa masih menganut kepercayaan animisme, dinamisme, serta ajaran Hindu-Buddha.

Alih-alih menggunakan pendekatan yang bersifat memaksa, para wali memanfaatkan kesenian lokal, termasuk gamelan, sebagai sarana untuk menarik perhatian masyarakat. Setelah warga berkumpul menikmati alunan musik, ajaran Islam disampaikan secara bertahap dan persuasif.

Baca Juga:Resmi Ditutup, Hanya Satu Calon yang Daftar Ketua Kadin Cirebon2027, PPPK Paruh Waktu Berpeluang Diangkat Penuh Waktu, Ini Kata BKPSDM Cirebon

Nama “Sekati” sendiri diyakini berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat, yang menjadi dasar ajaran Islam. Melalui pendekatan budaya tersebut, masyarakat diperkenalkan pada nilai-nilai Islam secara sukarela.

Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon, Ratu Mawar Kartina SH MH, mengatakan keberhasilan dakwah para wali tidak lepas dari pendekatan seni dan budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Para wali mengislamkan masyarakat tanpa paksaan, melainkan melalui pendekatan kesenian yang dilakukan secara sukarela,” ujarnya.

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan Gong Sekati yang telah berusia lebih dari lima abad menghadapi tantangan dalam upaya pelestarian. Sejumlah bagian instrumen bahkan sudah mengalami kerusakan akibat faktor usia, sehingga memerlukan perawatan dan konservasi secara berkala.

Proses pembersihan Gong Sekati dipimpin langsung oleh Patih Keraton Kanoman, Pangeran Patih Amaludin. Perawatan dilakukan menggunakan air rendaman bunga, abu gosok, serta ramuan herbal khusus untuk menjaga kondisi logam agar tetap terawat dan terhindar dari korosi.

Menurut Ratu Mawar, ritual tersebut tidak hanya bertujuan membersihkan fisik gamelan, tetapi juga menjaga kualitas suara instrumen yang hanya ditabuh satu kali setiap tahun.

“Gong Sekati hanya dibunyikan setahun sekali. Karena itu, sebelum digunakan harus dicuci dan dibersihkan dengan cara-cara khusus,” katanya.

0 Komentar