4 Faktor Pemicu Perceraian di Kabupaten Cirebon

Kepala DPPKBP3A Kabupaten Cirebon Dra Indra Fitriani MM
WASPADA: Kepala DPPKBP3A Kabupaten Cirebon, Dra Indra Fitriani MM (kiri) menjelaskan terkait empat titik rawan perceraian bagi pekerja migrant, kemarin. FOTO : SAMSUL HUDA/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Bekerja ke luar negeri membuka peluang ekonomi lebih besar bagi keluarga. Namun, ada persoalan lain yang tak kalah serius, yakni ketahanan rumah tangga.

Jarak ribuan kilometer antara suami dan istri menyimpan sejumlah titik rawan. DPPKBP3A Kabupaten Cirebon, mengungkap sedikitnya ada empat persoalan yang berpotensi memicu konflik keluarga pekerja migran berujung perceraian.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Cirebon, Dra Indra Fitriani MM mengatakan, ada hal yang perlu diantisipasi sejak awal, bahkan sebelum salah satu pasangan berangkat bekerja ke luar negeri.

Baca Juga:Pemerintah Kabupaten Cirebon Awasi Distribusi, Cegah Penimbunan Bahan PokokPorprov Jabar 2026, Kontingen Cirebon Kirim 391 Atlet dari 38 Cabor, Target Masuk 15 Besar

Yang paling utama adalah, pengelolaan remitansi atau uang kiriman. Uang yang dikirim, mestinya menjadi modal untuk memperkuat ekonomi keluarga.

“Namun, jika penggunaannya tidak dibicarakan dan dikelola secara terbuka, justru bisa menjadi sumber pertengkaran,” ujar Fitri –sapaan akrabnya, kepada Radar Cirebon.

Titik rawan yang kedua adalah, komunikasi. Perbedaan waktu, kesibukan bekerja, hingga minimnya interaksi dapat membuat kedekatan emosional perlahan berkurang.

Jika kondisi tersebut dibiarkan, persoalan kecil dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar. “Ini menjadi potret nyata dari retaknya ketahanan keluarga di Kabupaten Cirebon,” katanya.

Persoalan berikutnya, lanjut Fitri, menyangkut kepercayaan. Jarak yang berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun dapat menjadi ujian bagi pasangan.

Tidak hanya itu, pengasuhan anak menjadi titik rawan keempat yang tak kalah penting.

Ketika ayah atau ibu bekerja di luar negeri, pengasuhan anak sering kali beralih kepada kakek dan nenek.

Baca Juga:Polresta Cirebon Terjunkan Water Canon Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak KekeringanKomisi I DPRD Cirebon Tegaskan Semua SKPD Berbasis Risiko Wajib Ikut Bimtek 

Ia menyadari, bantuan keluarga besar memang menjadi penyangga penting, tetapi tanpa pengawasan dan pendampingan yang memadai, anak juga berpotensi menghadapi berbagai persoalan.

Mulai dari pendidikan, penggunaan gawai, hingga risiko pernikahan dini. “Ini berpotensi putus sekolah, kecanduan gadget, sampai pernikahan dini. Karena pernikahan dini belum siap, kemudian bisa muncul kekerasan dan berujung perceraian lagi,” jelasnya.

Fitri melihat, persoalan ini sebagai sebuah siklus yang harus diputus. Artinya, migrasi kerja pada dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.

0 Komentar