Barisan berikutnya mengarak air mawar, pasatan, boreh, serta kembang goyang. Benda-benda ini merupakan perlambang proses persalinan: air ketuban, sedekah syukur, perawatan pascamelahirkan, serta simbol ari-ari sang bayi. Iring-iringan kemudian ditutup oleh rombongan pembawa tumpeng jeneng, nasi uduk, dan nasi putih sebagai simbol doa agar anak yang lahir diberi nama terpuji dan bermanfaat bagi masyarakat.
Puncak kekhusyukan akan terjadi saat rombongan tiba di dalam masjid keraton. Pembacaan Kitab Al-Barzanji dan lantunan selawat bergema membungkus seluruh sudut ruangan. Menjelang tengah malam, Nasi Jimat yang telah selesai didoakan segera dibuka di ruang sakral, lalu dibagikan kepada keluarga besar keraton dan ribuan warga yang memadati halaman.
Rabu pagi ini, skema pengamanan dan penataan arus pengunjung di seluruh kompleks keraton telah matang 100 persen. Saat prosesi dimulai nanti malam, dinding-dinding batu tua di Cirebon kembali menjadi saksi bisu. Bahwa sejarah, budaya, dan iman di tanah para wali ini tak pernah lapuk dimakan zaman. (*)
