Juru Bicara Keraton Kanoman Cirebon Ratu Mawar Kartina SH MH menegaskan bahwa Gong Sekati adalah bukti nyata kejeniusan strategi dakwah para Wali Songo. Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga menggunakan pendekatan seni budaya untuk merangkul masyarakat Jawa abad ke-15. Saat itu, pendekatan dogmatis dihindari. Seni dijadikan magnet sosial agar warga berkumpul secara sukarela.
Penamaan Sekati sendiri diyakini berakar dari kata Syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat. Setelah terpesona oleh keindahan harmonisasi gamelan, masyarakat dengan penuh kesadaran menuntun diri mereka membaca kalimat syahadat. Di balik gema instrumen tua itu, ada pesan diplomasi damai yang melintasi rentang lima abad.
Sama seperti ritual pencucian pusaka lainnya, fenomena warga berebut air bekas cucian Gong Sekati kembali berulang. Warga memadati pelataran keraton demi membawa pulang air penjamasan. “Bagi masyarakat setempat, air tersebut diyakini menyimpan nilai keberkahan dari para syekh dan wali pendahulu,” ujar Ratu Mawar, Senin (24/8/2026).
Baca Juga:Dirut PDAM “Impor” Sudah Lama Beredar, Komisi II: Berarti Benar Temannya Wali Kota Itu Ya?Guru PPPK jadi ASN Pusat, FPS UGJ: Angin Segar Dunia Pendidikan
Kini, seluruh persiapan awal itu berujung pada malam puncak nanti. Para sultan, pimpinan adat, kiai keraton, hingga abdi dalem berbagi tugas secara terstruktur. Semua bergerak dalam satu komando tradisi. Mengikuti pakem kuno peninggalan Sunan Gunung Jati yang dirawat sejak Keraton Kasepuhan berdiri pada tahun 1530.
Panjang Jimat memang bukan pesta budaya biasa. Di balik deretan peranti yang diarak, tersimpan narasi perjalanan hidup manusia dari alam rahim hingga lahir ke bumi. Sekaligus napak tilas sejarah kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sesuai rute adat, prosesi malam nanti akan dimulai dari bangsal utama masing-masing keraton. Barisan terdepan dipimpin oleh para kiai penghulu dan kaum masjid, termasuk kaum dari Masjid Agung Sang Cipta Rasa di Kasepuhan. Di belakangnya, barisan abdi dalem berbusana adat khas Cirebon berjalan khusyuk mengapit benda-benda pusaka.
Aturan perlengkapan upacara sangat ketat. Sebanyak 36 piring panjang bersejarah dan 38 lilin pengiring berukuran besar disiapkan di Keraton Kasepuhan. Nyala lilin di barisan paling depan menyimbolkan hadirnya cahaya penerang di tengah kegelapan malam saat Sang Nabi lahir. Disusul oleh perangkat keagungan berupa manggaran, nagan, dan jantungan.
