Puncak Pelal Digelar Serentak, Lima Abad Merawat Tradisi Sakral Panjang Jimat

Puncak Pelal Panjang Jimat
PERSIAPAN: Persiapan pelaksanaan Panjang Jimat atau Pelal di Keraton Kasepuhan dan Kacirebonan (kanan). Foto: Seno Dwi Priyanto/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID- Keraton-keraton di Cirebon kembali punya hajatan besar. Puncak peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW siap digelar. Tradisi sakral itu bernama Panjang Jimat. Atau orang lokal kerap menyebutnya Pelal.

Tradisi tahunan tersebut dipastikan berlangsung khidmat pada Rabu malam (26/8/2026). Kegiatan malam ini dilaksanakan serentak di seluruh kesultanan di Cirebon. mulai dari Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, hingga Keraton Kaprabonan.

Selasa siang kemarin (25/8/2026), suasana di dalam tembok-tembok tua keraton sudah sangat sibuk. Seluruh persiapan teknis rampung. Peranti ritual disucikan. Alur prosesi dirapi-rapi. Momen puncak ini tinggal menunggu waktu. Setelah serangkaian tahapan panjang dilalui hari-hari sebelumnya.

Baca Juga:Dirut PDAM “Impor” Sudah Lama Beredar, Komisi II: Berarti Benar Temannya Wali Kota Itu Ya?Guru PPPK jadi ASN Pusat, FPS UGJ: Angin Segar Dunia Pendidikan

Di Keraton Kasepuhan, persiapan puncak bahkan sudah memakan waktu hampir sepekan. Salah satu ritual penting yang menyita perhatian adalah tradisi mipis boreh. Lokasinya berada di Pamburatan, salah satu bangunan kuno di dalam kompleks keraton. Sejumlah perempuan tampak sibuk meracik dan menghaluskan bahan-bahan lulur alami.

Peralatan yang digunakan sendiri masih sangat bersahaja. Mereka menghaluskan racikan menggunakan alat tradisional berbahan batu. Bahan-bahannya kaya akan rempah Nusantara. Ada kayu cendana, kayu gaharu, akar wangi, cengkeh, dan berbagai dedaunan khusus.

Proses pembuatan boreh ini butuh ketelitian tinggi. Tidak bisa terburu-buru. Racikan harus dihaluskan dan dipanggang secara berulang kali menggunakan kayu bakar. Jika aroma atau tingkat kehalusannya belum sesuai standar adat, adonan ditumbuk ulang lalu dipanggang kembali.

Boreh herbal ini punya fungsi simbolis sekaligus medis. Dalam tradisi keraton, lulur rempah ini berkhasiat untuk perawatan tubuh, khususnya bagi ibu yang baru saja melewati proses persalinan. Boreh yang telah selesai diracik nantinya disisipkan ke dalam wadah khusus untuk ikut diarak dalam iring-iringan Panjang Jimat.

Sementara itu, di Keraton Kanoman, gema peringatan Maulid Nabi sudah berembus lebih awal melalui penabuhan Gong Sekati. Sabtu lalu (22/8/2026), instrumen musik peninggalan abad ke-15 tersebut dibersihkan secara khusus dalam ritual penjamasan sebelum memasuki prosesi Awit Mungel.

Pembersihan artefak monumental ini dipimpin langsung oleh Patih Keraton Kanoman, Pangeran Patih Amaludin. Bukan sekadar pencucian fisik, prosesi ini menggunakan ramuan herbal, air bunga, serta abu gosok untuk mengikis korosi pada logam kuno tanpa merusak kualitas akustiknya. Sebab, gamelan pusaka ini hanya dibunyikan satu kali dalam setahun.

0 Komentar