Dalam belanja operasi, belanja pegawai berkurang sekitar Rp635 juta, belanja barang dan jasa turun Rp2,36 miliar, belanja bunga berkurang Rp1,92 miliar, serta belanja bantuan sosial turun Rp750 juta.
Sebaliknya, belanja hibah justru mengalami peningkatan sekitar Rp4,5 miliar. Belanja modal juga mengalami penurunan cukup signifikan. Dari sebelumnya Rp148,52 miliar lebih menjadi Rp140,70 miliar lebih atau berkurang sekitar Rp7,81 miliar.
Perubahan tersebut mencakup pengurangan belanja modal peralatan dan mesin sekitar Rp3,70 miliar serta aset tetap lainnya sebesar Rp8,15 miliar lebih.
Baca Juga:Knalpot Bising Kena Razia, Satlantas Kuningan Tertibkan Puluhan MotorBupati Sebut Karhutla Kawasan TNGC Kuningan Capai 40 Hektare
Namun, sejumlah belanja modal mengalami peningkatan, antara lain tanah sekitar Rp33,7 juta, bangunan dan gedung sekitar Rp1 miliar lebih, serta jalan, irigasi dan jaringan sebesar Rp3 miliar. Belanja modal aset lainnya juga bertambah sekitar Rp6,24 juta.
Belanja tidak terduga turut dikurangi dari Rp16 miliar menjadi Rp13,4 miliar, atau turun Rp2,6 miliar.
Penurunan paling besar terjadi pada belanja transfer. Dari sebelumnya Rp444,51 miliar lebih, angkanya dalam perubahan APBD menjadi Rp275,84 miliar lebih. Dengan demikian, belanja transfer berkurang sekitar Rp168,67 miliar.
Dari sisi pembiayaan daerah, penerimaan pembiayaan justru mengalami peningkatan. Semula dianggarkan Rp31,31 miliar lebih, kemudian naik menjadi Rp37,13 miliar lebih atau bertambah sekitar Rp5,81 miliar.
Tambahan tersebut bersumber dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) tahun anggaran sebelumnya.
Sementara pengeluaran pembiayaan yang dialokasikan untuk pembayaran cicilan pokok utang yang jatuh tempo mengalami sedikit penurunan. Dari sebelumnya Rp18,5 miliar menjadi Rp18,05 miliar atau berkurang sekitar Rp450 juta. (ags)
