Pada kesempatan tersebut, Bupati Dian juga menyerahkan Anugerah Tokoh Pinunjul Kuningan kepada Andi Gani Nena Wea SH MH. Penghargaan diberikan atas kontribusi luar biasa kepada masyarakat dan pembangunan daerah.
Dian mengaku puas dengan pelaksanaan helaran. Ia menilai antusiasme peserta dan masyarakat sangat tinggi hingga pertunjukan berakhir.
“Saya sangat puas, merasa terhibur, dan saya lihat juga masyarakat bertahan sampai akhir. Lima jam tanpa jeda dan sekarang lebih terkonsep. Setiap peserta mengusung tema dan tata kelolanya kita atur, dan ternyata mereka bisa,” ungkapnya.
Baca Juga:Pendapatan Daerah Kuningan Turun Rp186 Miliar dalam Perubahan APBD 2026Komando Penaburan Benih Serentak 2026, Perhutani KPH Kuningan Targetkan 76 Ribu Bibit Pinus
Dian menyebut helaran tahun ini tidak hanya menghadirkan tontonan, tetapi juga mengandung pesan edukatif.
“Ini jujur merupakan hiburan yang menarik dan berisi, ada tontonan dan ada juga tuntunan. Mudah-mudahan jadi spirit bagi kita untuk membangun ke arah lebih baik,” tuturnya.
Ia menegaskan, pembangunan Kuningan harus tetap berpijak pada akar budaya dan tradisi leluhur.
“Kita boleh modern, tapi kita tidak boleh lupa dan harus tetap mengingat jasa-jasa leluhur. Jati diri, tradisi harus jadi bagian hidup kita, masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang,” katanya.
Ke depan, Dian mengatakan berbagai potensi daerah akan terus didorong melalui kegiatan kreatif dan festival. Pemerintah juga berencana merancang gelaran berskala internasional tanpa membebani APBD.
Menurutnya, keindahan alam, sumber daya manusia, dan ekonomi kreatif Kuningan memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
“Saya ingin Kuningan melejit melesat ke depan dengan segala potensi yang ada. Ini kita belum tergali saja. Kalau bukan oleh kita, siapa lagi?” pungkasnya. (ags)
