Pada kesempatan itu juga, Wihaji mengapresiasi capaian penurunan stunting di Kabupaten Indramayu yang berada di angka 9,8 persen. Angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 19,8 persen. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengawalan terhadap isu-isu keluarga harus terus ditingkatkan.
Ia juga menilai, pemberian MBG 3B menjadi salah satu solusi penting dalam memberikan asupan gizi, meski dalam penanganan stunting diperlukan pendekatan yang holistik dari berbagai sektor.
“MBG 3B ini salah satu solusi untuk memberikan asupan gizi, tapi apakah langsung selesai stuntingnya? Penanganan stunting butuh rumah layak, air bersih, edukasi, dan sanitasi. Ini salah satu ikhtiar,” papar Wihaji.
Baca Juga:Sehari, Damkar Indramayu Tangani Tiga KebakaranRumah di Cibingbin Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp100 Juta
Selain asupan gizi, BKKBN juga menaruh perhatian pada pendampingan kasus pernikahan dini serta pemenuhan sarana air bersih, sanitasi (MCK), dan rumah layak huni di Indramayu.
Wihaji menyampaikan arahan dari Presiden RI Prabowo Subianto agar jajaran kementerian tidak hanya berdiskusi di balik meja, tetapi terjun langsung ke lapangan untuk menyelesaikan masalah, serta memberikan semangat kepada seluruh kader TPK yang didominasi oleh kader Posyandu, PKK, dan KB.
“Saya pembantu Presiden diminta jangan hanya di kantor atau seminar, hilangkan itu, sekarang terjun ke lapangan dan selesaikan masalah. Kepada kader TPK, tetap semangat, kerja ikhlas dari hati, dan semoga menjadi berkah barokah,” pungkasnya. (oni)
