RADARCIREBON.ID – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI, Dr H Wihaji SAg MPd melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Kabupaten Indramayu pada Kamis (17/9) sore. Pada kunjungannya itu, Wihaji mengunjungi beberapa titik lokasi.
Di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Kecamatan Karangampel, dirinya bertemu dengan ribuan Tim Pendamping Keluarga (TPK). Kemudian, kunjungan dilanjutkan dengan mendatangi secara langsung rumah tiga keluarga yang masuk kategori Keluarga Berisiko Stunting (KRS). Di sana, Mendukbangga/Kepala BKKBN RI menyerahkan bantuan secara langsung, termasuk bantuan program renovasi rumah (bedah rumah).
“Hampir ada 4.000-an TPK di Indramayu yang hari ini mendapat tugas baru berdasarkan Perpres 115. Kita diminta mendayagunakan para TPK untuk mendistribusikan MBG 3B,” ucap Wihaji seusai menyapa para TPK.
Baca Juga:Sehari, Damkar Indramayu Tangani Tiga KebakaranRumah di Cibingbin Ludes Terbakar, Kerugian Capai Rp100 Juta
Kunjungan tersebut, lanjut Wihaji, bertujuan untuk mengecek secara langsung kesiapan para anggota TPK dalam menjalankan tugas mereka yang baru, yaitu mendistribusikan Makan Bergizi Gratis (MBG) khusus kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B).
“Hasil pemantauan secara umum pendistribusian program MBG 3B berjalan baik. Alhamdulillah, lebih dari separuhnya sudah berjalan. Nanti yang belum akan kita tindak lanjuti SPPG mana saja, tapi rata-rata 80 sampai 90 persen sudah berjalan,” jelasnya.
Pada pendistribusian program MBG 3B, kader TPK mendapat insentif Rp1.000 per ompreng dari pemerintah yang pencairannya dilakukan setiap 10 hari sekali. Itu semua sebagai apresiasi terhadap kinerja kader TPK di lapangan yang menyalurkannya secara berkala sesuai prosedur operasional standar.
Wihaji menekankan bahwa pendistribusian MBG 3B dilakukan dengan skema door to door, diantar langsung ke rumah penerima manfaat, bukan penerima manfaat yang datang ke Posyandu. Kader TPK juga sekaligus memberikan edukasi kepada penerima manfaat terkait program tersebut.
“Kita tanya bagaimana cara mendistribusikannya, ada yang jalan kaki, ada juga pakai motor, tapi rata-rata jalan kaki, sekaligus edukasi. Karena kadang dikasih MBG 3B, tetapi yang makan justru bukan penerima manfaat. Ini yang perlu dievaluasi dan diperbaiki,” jelasnya.
