RADARCIREBON.ID – Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang membuat dampak kekeringan di Kabupaten Cirebon semakin meluas. Sedikitnya, 12 desa kini tercatat mengalami kekeringan sekaligus krisis air bersih.
Hal itu diungkapkan Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Syamsul Huda kepada Radar Cirebon, kemarin.
Dijelaskan Syamsul, kondisi tersebut terjadi karena awal musim hujan yang sebelumnya diprediksi berlangsung pada Oktober, kini mengalami kemunduran hingga November.
Baca Juga:SKCK Online Mulai Diuji Coba di Majalengka, Warga Bisa Daftar Lewat Super App PolriAngkutan Sampah Terhenti Dua Hari, DLH Kerahkan Alat Berat, Kebakaran di TPA Gunung Santri Berhasil Dipadamkan
Perpanjangan musim kemarau tersebut tidak hanya berdampak terhadap bertambahnya wilayah terdampak. Status siaga bencana kekeringan yang ditetapkan Pemkab Cirebon juga harus diperpanjang.
“Dengan semakin panjangnya musim kemarau, yang sebelumnya diprediksi musim hujan jatuh pada Oktober, saat ini mundur menjadi November,” ujar Syamsul.
Menurutnya, SK Bupati Cirebon terkait siaga bencana kekeringan yang sebelumnya berakhir pada akhir September kini diperpanjang hingga akhir Oktober.
Di sisi lain, jumlah desa yang mengalami dampak kekeringan dan kelangkaan air bersih juga bertambah. Saat ini tercatat ada 12 desa yang terdampak.
Kedua belas desa tersebut yakni Desa Buyut, Ciwaringin, Cupang, Galagamba, Karangwangi, Kreyo, Mundu Pesisir, Panongan Lor, Sampiran, Sibubut, Sidamulya, dan Slangit.
“Selain perpanjangan SK Bupati, juga bertambahnya desa yang terdampak kekeringan dan kelangkaan air bersih. Saat ini menjadi 12 desa,” katanya.
Syamsul menyebut, dari 12 desa tersebut, total terdapat 25.969 jiwa yang terdampak kekeringan dan krisis air bersih.
Baca Juga:Diadukan Warga, Komdigi Cek Paparan Radiasi Tower Kabel Internet Semrawut Masih Hiasi Jalan Cirebon, Pemkot Targetkan Masuk Tanah Sebelum Lebaran 2027
Kondisi ini menjadi perhatian BPBD Kabupaten Cirebon karena mundurnya musim hujan berpotensi memperpanjang kebutuhan distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak.
“Dengan kondisi tersebut, penanganan kekeringan masih harus dilakukan hingga hujan benar-benar turun dan ketersediaan air masyarakat kembali normal,” ujar Syamsul. (den)
