ARTIKEL, RADARCIREBON.ID – Rabu, 28 Oktober 2026, Sumedang menggelar Pilkades digital serentak di 92 desa. Sekitar 270 ribu warga memilih lewat tablet di 423 TPS, dan hasilnya keluar siang itu juga. Tahun depan giliran Kuningan.
Menurut DPMD Kuningan, Pilkades serentak 2027 akan diikuti 198 desa di 32 kecamatan. Warga tidak lagi mencoblos kertas, melainkan memilih lewat tablet. Tahapannya dimulai sekitar Juni dan berakhir Desember 2027, sebagai mandat Pemprov Jawa Barat dengan anggaran APBD Kuningan.
Saya pernah menjadi perangkat desa dan sampai sekarang masih peduli pada desa. Karena itu saya tidak menolak Pilkades digital. Saya hanya ingin mengajukan satu pertanyaan sederhana, bagaimana warga bisa memastikan hasilnya benar?
Manfaatnya Nyata
Baca Juga:Janji Layanan Balik Nama Sertifikat Tanah Rampung 10 Hari244 Kebakaran hingga September, Damkar Majalengka Hanya Punya Dua
Keunggulan Pilkades digital tidak perlu diragukan. Biaya cetak surat suara, kotak suara, dan bilik fisik bisa dipangkas. Penghitungan yang biasanya berlangsung sampai malam kini selesai dalam hitungan jam.
Di Sumedang, Pemprov Jabar mencatat persentase suara tidak sah mencapai nol. Gubernur juga menyinggung modus lama, yaitu surat suara ditusuk jarum lebih dulu sehingga jadi tidak sah saat dicoblos pemilih.
Sebagai orang yang pernah ikut menjaga malam penghitungan suara, saya tahu betapa melelahkan dan rawannya proses itu. Jadi saya menulis ini justru supaya teknologi itu bisa dipercaya semua pihak.
Saksi Melihat Angka, Bukan Prosesnya
Pada Pilkades konvensional, saksi bisa melihat setiap surat suara dibuka dan dihitung. Kalau ada keraguan, kertasnya bisa dihitung ulang di depan semua orang. Siapa pun bisa ikut mengawasi tanpa keahlian khusus.
Pada Pilkades digital, yang disaksikan saksi hanyalah angka akhir di layar. Apa yang terjadi di dalam aplikasi, antara sentuhan jari pemilih dan munculnya angka itu, tidak bisa dilihat siapa pun di TPS.
Kode aplikasi dibuat oleh manusia, dan manusia bisa keliru. Satu bug kecil bisa menukar atau menghilangkan suara tanpa disadari. Kode juga bisa sengaja disisipi perintah yang menguntungkan pihak tertentu, sementara hasilnya tetap tampak rapi di layar.
Ini bukan tuduhan kepada siapa pun. Perangkat lunak memang tidak bisa dipercaya hanya karena terlihat berjalan lancar.
