Pekerjaan dimulai dengan tahap persiapan, termasuk pemasangan pagar pengaman dan alat pelindung diri (K3) mengingat padatnya lalu lintas di sekitar bantaran Sukalila. Menariknya, revitalisasi ini menjanjikan konsep penataan yang tetap menghargai ekosistem alami.
BBWSCC berkomitmen tidak melakukan penebangan pohon secara serampangan. Pohon-pohon besar yang akarnya menjulur ke tebing sungai akan dipertahankan sebagai elemen estetika sekaligus penguat alami tebing. “Normalisasi kalau bisa tetap alami. Akar pohon yang bagus justru menjaga estetika sungai di tengah kota,” kata Dwi Agus.
Proyek ini menjadi taruhan besar bagi sinergi antara BBWSCC, Kodam III/Siliwangi, dan Pemkot Cirebon. Di satu sisi, ada kebutuhan mendesak untuk mencegah banjir dan menciptakan ruang publik yang manusiawi. Di sisi lain, ada warisan sejarah yang telanjur “terluka” akibat pembongkaran sepihak.
Baca Juga:Walikota Siap Hadapi Laporan dan RDP, KAI Masih Koordinasi InternalProyek Sukalila – Kalibaru Jalan Terus, Hari Ini BBWSCC, Kodam III, dan Pemkot Kumpul di Kesbangpol
Keputusan kini ada pada PT KAI; apakah mereka akan mengambil opsi meninggikan kembali jembatan tersebut sebagai bagian dari objek wisata sejarah sesuai saran BBWSCC, atau tetap membiarkan material tersebut menjadi puing-puing sengketa.
Sementara itu, warga Cirebon kini bersiap menyaksikan transformasi besar di sepanjang aliran Sukalila, berharap penataan ini tidak hanya cantik di permukaan, tapi juga fungsional secara teknis dan bermartabat secara sejarah. (ade)
