RADARCIREBON.ID – Matahari menyengat di kawasan pesisir Kota Cirebon. Namun, Sahadi tak bergeming. Mengenakan topi hitam dan kaus abu-abu tanpa lengan, ia sibuk memperbaiki jaring di hadapannya.
Jemarinya yang kasar dan legam bergerak lincah menyusuri helai demi helai jaring hijau yang terikat pada tali tambang putih.
Di dermaga beton itu, Sahadi menjalani rutinitas hariannya: memperbaiki alat tangkap sebelum melaut. Di belakangnya, muara tampak dipenuhi puluhan perahu kayu kecil yang bersandar tak beraturan.
Baca Juga:YouTube Sudah, Roblox Belum, Komdigi Minta Platform Patuhi PP TunasAlhamdulillah, Kloter Perdana Jemaah Haji Indonesia Tiba di Madinah
Perahu-perahu tersebut kontras dengan latar hutan bakau yang hijau, namun dikelilingi air keruh kecokelatan. Mesin diesel di atas perahu menjadi satu-satunya penggerak bagi nelayan untuk mengadu nasib di laut.
Kondisi nelayan jaring di pesisir Cirebon saat ini tidak baik. Bagi nelayan kecil, satu hari tanpa tangkapan berarti kerugian. Untuk sekali melaut, satu perahu dengan satu hingga dua orang membutuhkan sekitar 40 liter solar.
Dengan harga sekitar Rp7.000 per liter, biaya bahan bakar mencapai Rp280.000, belum termasuk es dan perbekalan. “Kadang 40 liter cukup, kadang kurang,” ujarnya.
Selain itu, faktor alam turut memengaruhi hasil tangkapan. Saat ini, perairan Cirebon memasuki masa transisi atau musim peneduh.
Pada periode ini, arus laut tidak menentu sehingga pergerakan ikan menjadi sulit diprediksi. “Kalau arus tidak ada, ikan juga tidak masuk jaring,” katanya.
Nelayan jaring biasanya berangkat melaut sekitar pukul 17.00 WIB dan kembali saat subuh. Target utama mereka adalah udang dogol.
Dalam kondisi normal, tangkapan bisa mencapai 7 hingga 10 kilogram, ditambah rajungan atau ikan kecil lainnya.
Baca Juga:JP Morgan: Indonesia Negara Paling Tahan Krisis Energi ke-2 di DuniaPemprov Jabar – Kota Bandung Kompak Tata Gedung Sate dan Monumen Perjuangan
Namun, keterbatasan alat tangkap menjadi kendala. Sebagian besar nelayan hanya memiliki jaring udang dan tidak mampu membeli alat tangkap lain yang lebih spesifik. “Nelayan ingin maju, tapi terkendala alat,” ujar Sahadi.
Ia juga menyinggung bantuan alat tangkap yang kerap tidak tepat sasaran. Dalam beberapa kasus, bantuan tersebut justru dijual kembali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Di tengah tekanan limbah dan kondisi alam yang tidak menentu, nelayan pesisir Cirebon hanya bisa bertahan. Tanpa pengawasan ketat terhadap pembuangan limbah, jaring yang mereka perbaiki setiap hari berisiko hanya menangkap air keruh, sementara hasil tangkapan semakin sulit diperoleh.
