Keseriusan Fitria dalam membimbing siswa terlihat dari caranya memberikan instruksi. Ia tidak segan untuk mengulang satu baris nada hingga belasan kali sampai benar-benar sempurna. “Paduan suara itu soal menurunkan ego. Suara bagus bukan untuk dominan, tapi untuk mengindahkan teman. Itu intinya,” tegasnya.
Baginya, orkestra dan paduan suara adalah miniatur kehidupan sosial. Di sana, siswa belajar kapan harus menonjol dan kapan harus menahan diri demi kepentingan bersama.
Obsesi Fitria pada musik meluas hingga ke luar pagar sekolah. Bersama Faisal, dosen UGJ Cirebon, ia membidani lahirnya komunitas “Cirebon Bernyanyi”. Hasilnya dahsyat. Pada Volume 2 yang baru saja tuntas di Swiss-Belhotel, ia berhasil mengumpulkan 680 orang. Mereka orang asing yang tak saling kenal, namun dipersatukan dalam satu harmoni suara.
Baca Juga:Daycare Aman; Antara Kebutuhan, Kepercayaan, dan Tanggung JawabPerkuat Layanan Jamaah Haji Lansia
Keberhasilan Fitria mengumpulkan ratusan orang hanya untuk bernyanyi bersama menunjukkan dahaga warga akan ruang ekspresi. Komunitas ini menjadi oase di tengah rutinitas kota yang padat. “Kota Cirebon butuh healing. Dan bernyanyi adalah caranya. Di sana kita bercerita lewat nada,” ungkap Fitria.
Peserta yang datang berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari pelajar, pekerja kantoran, hingga ibu rumah tangga. Di komunitas itu, Fitria berperan sebagai mentor. Memberikan teknik vokal dasar dan coaching clinic. Peserta membayar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu.
Antusiasmenya luar biasa. Banyak peserta mengaku merasa lebih lega dan bahagia setelah mengikuti sesi bernyanyi masal tersebut. Fitria dan timnya berhasil menciptakan lingkungan yang suportif tanpa ada penghakiman terhadap kualitas suara masing-masing individu.
Kini, perhatian tertuju pada Pentas Seni SMPN 5 Kamis besok. Latihan hari ini menjadi penentu. Fitria ingin membuktikan bahwa guru seni punya kualitas yang setara dengan pengajar mata pelajaran eksak. Ia ingin seni budaya mendapat tempat yang layak di mata masyarakat. Di bawah tenda biru-putih itu, ia terus mematangkan setiap aransemen. Instruksinya singkat, namun eksekusinya harus tepat.
Siswa-siswi SMPN 5 sendiri merasa bangga memiliki guru yang dikenal luas. “Ibu Fitria itu tegas tapi asyik. Kami jadi semangat latihan karena beliau juga sangat semangat,” ujar salah satu siswa kelas VIII yang menjadi peserta orkestra.
