RADARCIREBON.ID- Fitria Ramdani berdiri tegak di tengah lapangan SMPN 5 Kota Cirebon, Selasa (28/4/2026). Tangannya bergerak dinamis. Memberi aba-aba. Sesekali ia mengangkat tangan kiri tinggi-tinggi ke arah langit-langit. Memberi kode agar nada naik. Tegas. Tanpa kompromi.
Fitria sedang mengawal latihan orkestra siswa kelas VIII. Ini persiapan final. Puncak Pentas Seni sekolah akan digelar Kamis besok (30/4/2026). Sosok perempuan 35 tahun ini belakangan memang sedang menjadi pusat perhatian. Namanya viral di TikTok dan Instagram.
Gara-gara video aksinya memandu paduan suara yang dinilai sangat ekspresif. “Saya kaget. Awalnya iseng unggah arsip lama latihan tahun 2024. Eh, malah ramai,” ujar Fitria saat ditemui di sela latihan, Selasa (28/4/2026).
Baca Juga:Daycare Aman; Antara Kebutuhan, Kepercayaan, dan Tanggung JawabPerkuat Layanan Jamaah Haji Lansia
Dalam video viral berdurasi singkat yang beredar luas, Fitria tampak sangat menonjol. Mengenakan seragam dinas cokelat dan jilbab senada, ia memandu ratusan siswa dalam sebuah ruangan ballroom. Gerakannya begitu enerjik. Ia bertepuk tangan ritmis. Jarinya menunjuk dengan presisi ke barisan suara tertentu.
Sesekali ia mengepalkan tangan ke dada, seolah menyuntikkan semangat ke setiap tarikan napas siswanya. Senyumnya lebar, matanya berbinar, menunjukkan kebahagiaan murni dalam bermusik.
Saat ditemui di SMPN 5 Cirebon, totalitas itu bukan akting demi kamera. Di hadapan siswa, Fitria tampil dengan kemeja biru gelap dan jilbab khaki yang anggun. Mikrofon hitam di tangan kanannya menjadi penyambung instruksi yang lugas. Wajahnya serius. Matanya tajam. Ia sedang mentransfer energi kepada para siswa di bawah bayang-bayang gedung hijau dua lantai itu.
Bagi Fitria, viral hanyalah efek samping. Fokusnya tetap pada kualitas nada. Sebagai lulusan magister Pendidikan Seni Musik UPI Bandung, ia tahu benar cara mengelola harmoni. Pengalamannya tidak main-main. Pernah ikut program Unesco di Korea hingga Columbia University.
Ia juga aktif di HAMKRI bersama maestro keroncong Sundari Sukoco. “Musik adalah bahasa universal. Di sekolah, seni budaya bukan sekadar mata pelajaran hafalan. Ini tentang rasa,” tuturnya mantap.
Fitria meyakini bahwa kecerdasan emosional siswa dapat diasah secara tajam melalui harmonisasi nada. Di tangannya, kurikulum seni menjadi hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.
