RADARCIREBON.ID – Revitalisasi Pasar Palimanan yang diharapkan mampu menggeliatkan aktivitas perdagangan, justru belum memberi dampak signifikan terhadap peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor retribusi.
Sepinya aktivitas jual beli pasca revitalisasi membuat ratusan pedagang memilih meninggalkan kios, los, hingga lapak lemprakan, bukan tanpa alasan.
Salah satu pemicunya adalah faktor fisik bangunan dan perubahan perilaku konsumen yang lebih memilih berbelanja secara daring.
Baca Juga:Aseehra Batik-Trusmi Gelar Lomba Parodi Orkestra Barang BekasKomunitas Moge dan Gus Iqdam Ziarah ke Makam Sunan Gunung Jati
Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Cirebon pun mengakui kondisi tersebut.
Berkurangnya jumlah pedagang aktif di Pasar Palimanan menjadi salah satu faktor utama turunnya penerimaan retribusi harian.
Kabid Sarana dan Pelaku Distribusi Disperdagin Kabupaten Cirebon, Teguh Mulyono didampingi Analis Perdagangan, Nur Urip Wijaya mengakui, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi keberlangsungan pasar tradisional.
“Tren masyarakat saat ini lebih nyaman belanja online. Jadi pedagang juga harus bisa berinovasi agar tetap bertahan,” ujar Teguh kepada Radar Cirebon saat ditemui di ruang kerjanya.
Menurutnya, dari total 581 pedagang yang tercatat di Pasar Palimanan, hanya 214 yang masih aktif berjualan, sementara 367 lainnya memilih tutup.
Kondisi itu membuat potensi kehilangan pendapatan retribusi diperkirakan mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per hari.
Yang cukup mencolok, sebanyak 35 toko emas yang selama ini menjadi ikon Pasar Palimanan justru memilih hengkang dan pindah menyewa ruko di seberang pasar.
Baca Juga:Prabowo Soroti Kecelakaan Kereta, Penanganan Dimaksimalkan, Prioritas Perbaikan 1.800 PerlintasanJumlah korban dalam kecelakaan kereta api Argo Bromo 15 Tewas dan 84 Luka
“Padahal, beban retribusi di dalam pasar relatif lebih murah. Namun, lesunya kunjungan pembeli menjadi alasan utama pedagang memilih keluar,” ujarnya.
Menurutnya, desain pasar dua lantai yang diterapkan di Pasar Palimanan turut memengaruhi tingkat kunjungan.
Padahal, desain dua lantai sudah melewati berbagai kajian. Diantaranya, mengakomodir para pedagang yang terdampak. Pasalnya, bangunan pasar mundur 17 meter dari badan jalan.
Masalahnya, konsumen cenderung enggan naik ke lantai atas, terutama kalangan usia menengah ke atas yang menjadi mayoritas pengunjung pasar rakyat.
“Pasar ini dibangun dua lantai. Salah satu kendalanya, konsumen enggan naik ke atas. Padahal dari sisi desain sudah diperhitungkan, aman dan ramah untuk semua usia,” jelasnya.
