RADARCIREBON.ID – Jumlah korban dalam kecelakaan kereta api Argo Bromo dan KRL di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi, terus menjadi perhatian. Hingga Selasa (28/4), PT Kereta Api Indonesia mencatat sebanyak 15 orang meninggal dunia, sementara 84 lainnya mengalami luka-luka akibat insiden yang terjadi pada Senin malam (27/4).
Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia, Bobby Rasyidin, menyampaikan bahwa seluruh korban telah berhasil dievakuasi oleh tim gabungan. Ia memastikan para korban luka kini tengah mendapatkan perawatan medis di berbagai rumah sakit di wilayah Bekasi dan sekitarnya.
Korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, korban luka dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan, antara lain RSUD Kota Bekasi, RS Primaya, RS Hermina, RS Siloam Bekasi Timur, hingga RS Mitra Keluarga.
Baca Juga:Sungai di Kota Cirebon Penuh Tumpukan Sampah, BBWS Tegaskan Tanggung Jawab Bersama, Puji Aksi WalikotaSantri Al Hikmah Raih Perak Panahan Tingkat Jabar
Di RSUD Kota Bekasi, sebanyak 54 korban luka ditangani oleh tim medis. Direktur rumah sakit, dr Ellya Niken Prastiwi, mengungkapkan bahwa sebagian pasien telah diperbolehkan pulang.
Ia menjelaskan bahwa sekitar 15 orang sudah dipulangkan pada Selasa pagi karena kondisinya membaik dan dapat melanjutkan rawat jalan. Sementara itu, sisanya masih menjalani perawatan intensif maupun observasi lanjutan.
Jenis luka yang dialami korban bervariasi, mulai dari luka memar hingga patah tulang. Beberapa pasien juga dijadwalkan menjalani operasi, dengan penanganan dilakukan setelah pemeriksaan lebih lanjut oleh dokter spesialis.
“Kemudian ada beberapa yang luka memar dan alhamdulillah tidak ada yang di kami yang dirawat dengan tidak sadar, seperti itu,” ucapnya, Selasa (28/4/2026).
Menurut Ellya, luka memar umumnya ditemukan pada bagian paha, kaki, hingga wajah. Selain itu, terdapat pula korban dengan cedera serius pada tangan dan kaki yang memerlukan tindakan operasi.
Meski demikian, pihak rumah sakit belum merinci secara detail jumlah korban berdasarkan tingkat keparahan luka. Ia menegaskan bahwa penanganan dilakukan secara profesional oleh tim medis yang terdiri dari berbagai dokter spesialis.
RSUD Kota Bekasi sendiri memiliki sekitar 90 tenaga spesialis, termasuk empat dokter ortopedi yang menangani kasus cedera tulang. Hal ini dinilai cukup untuk mendukung proses penanganan korban secara optimal.
