Menurutnya, dari total 581 pedagang yang tercatat di Pasar Palimanan, hanya 214 yang masih aktif berjualan, sementara 367 lainnya memilih tutup.
Kondisi itu membuat potensi kehilangan pendapatan retribusi diperkirakan mencapai Rp500 ribu hingga Rp600 ribu per hari.
Yang cukup mencolok, sebanyak 35 toko emas yang selama ini menjadi ikon Pasar Palimanan justru memilih hengkang dan pindah menyewa ruko di seberang pasar.
Baca Juga:Terjebak di Jalan Buntu, Lima Pemuda Bersajam DiamankanBareskrim Polri Tangkap 321 Tersangka dari Berbagai Negara dan Amankan Puluhan Situs
“Padahal, beban retribusi di dalam pasar relatif lebih murah. Namun, lesunya kunjungan pembeli menjadi alasan utama pedagang memilih keluar,” ujar Teguh.
Menurutnya, desain pasar dua lantai yang diterapkan di Pasar Palimanan turut memengaruhi tingkat kunjungan.
Padahal, desain dua lantai sudah melewati berbagai kajian. Diantaranya, mengakomodir para pedagang yang terdampak. Pasalnya, bangunan pasar mundur 17 meter dari badan jalan.
Perlu diketahui, sepinya Pasar Palimanan setelah revitalisasi pada Agustus tahun 2024 lalu. Revitalisasinya sendiri menghabiskan anggaran sebesar Rp15 miliar batuan dari Pemprov Jabar. (sam)
