RADARCIREBON.ID – Suasana Aula STMIK IKMI Cirebon, tampak berbeda dari biasanya. Tidak ada riuh tepuk tangan ataupun sorak sorai mahasiswa. Yang terdengar justru hanya bunyi ketukan jari di layar gawai dan tatapan serius puluhan mahasiswa yang sedang berkutat dengan soal demi soal berbahasa Inggris.
Di ruangan itu, sekitar seratus mahasiswa sedang menjalani final test sertifikasi bahasa Inggris internasional dari Belgia. Sebuah ujian yang bukan hanya mengukur kemampuan grammar atau vocabulary semata, tetapi juga menjadi gerbang menuju persaingan global.
Bagi sebagian mahasiswa, ini mungkin hanya sebuah tes. Namun bagi STMIK IKMI Cirebon, agenda tersebut merupakan bagian dari langkah besar membangun lulusan teknologi informasi yang mampu bersaing di level internasional.
Baca Juga:Secangkir Kopi dari Lereng Ciremai Hadir di World of Coffee Bangkok 2026Developer Bandel Belum Serahkan PSU, DPRD Cirebon Dorong Revisi Perda
Kampus berbasis teknologi itu menggandeng Altissia, platform pembelajaran bahasa asal Campus Université Catholique de Louvain (UCL), Belgia. Selama hampir satu tahun, mahasiswa menjalani proses belajar bertahap sebelum akhirnya sampai pada ujian akhir sertifikasi.
Menariknya, proses pembelajaran dan ujian dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dari metode konvensional.
Setiap mahasiswa memulai perjalanan dari titik kemampuan masing-masing. Mereka terlebih dahulu mengikuti placement test untuk memetakan level kemampuan awal. Setelah itu, sistem akan menyusun jalur pembelajaran yang berbeda bagi tiap peserta.
Di sinilah teknologi Artificial Intelligence (AI) bekerja. Sistem AI milik Altissia tidak hanya memberikan soal secara acak, tetapi juga membaca kemampuan peserta secara real time. Ketika jawaban benar, tingkat kesulitan meningkat. Ketika salah, sistem menyesuaikan agar peserta tetap bisa berkembang secara bertahap.
Artinya, mahasiswa yang duduk berdampingan bisa saja menerima soal yang benar-benar berbeda.
“Program ini bukan sekadar mengejar sertifikat, melainkan proses pembelajaran yang nyata,” ujar President Director PT Global Sinergi Edukasi (Altissia Indonesia), Mohammad Varel Marentama BIBM (Honours) Cilt.
Menurut Varel, tantangan terbesar pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia adalah kemampuan dasar peserta yang sangat beragam. Karena itu, Altissia menghadirkan sistem pembelajaran yang adaptif agar setiap mahasiswa tetap bisa berkembang sesuai kemampuannya.
Baca Juga:Retribusi Anjlok, Komisi II DPRD Cirebon Segera Sidak Pasar PalimananHasil Konsultasi soal SE Menteri 7/2026, Disdik Cirebon Pastikan Guru Honorer Tetap Ngajar
Target akhirnya adalah mencapai level B1 dalam standar Common European Framework of Reference for Languages (CEFR), level yang diakui secara internasional untuk kebutuhan dunia kerja profesional.
