Desak Gubernur BI Mundur, Rupiah Kian Tertekan dan Kekhawatiran Investor Kembali Membesar

nggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio
DESAK MUNDUR: Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio mendesak Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mundur setelah rupiah melemah, di tengah meningkatnya tekanan pasar dan sorotan terhadap kredibilitas bank sentral. Foto: Ist 
0 Komentar

Menurut Primus, pelemahan mata uang nasional terhadap dolar Singapura, dolar Australia, ringgit Malaysia, hingga euro menunjukkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar tekanan terhadap dolar AS. Karena itu, ia mengingatkan semua pihak agar tidak memilih sikap diam di tengah situasi yang terus memburuk. “Ini harus kita lihat dengan realita. Kita tidak bisa berdiam diri,” tegasnya.

Dalam rapat yang sama, Primus juga mempertanyakan kredibilitas Bank Indonesia di hadapan publik dan pelaku pasar. Ia menilai kepercayaan terhadap bank sentral mulai terkikis, sebuah situasi yang menurutnya berbahaya ketika pasar justru membutuhkan otoritas yang kuat dan meyakinkan.

Ia bahkan secara terbuka menyampaikan penilaian pribadinya bahwa Bank Indonesia telah kehilangan trust di mata pasar. “Menurut saya pribadi, Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust dan mengenyampingkan kredibilitasnya,” ucapnya.

Baca Juga:Pemkab Cirebon Bangun 446 Rumah RutilahuLatar Belakang Kandidat?, Pansel Umumkan Calon Dewan Pengawas dan Direksi BUMD Kota Cirebon

Pada saat kritik itu mengemuka, rupiah memang kembali tertekan di pasar spot. Berdasarkan data Morningstar pada Senin 18 Mei 2026 pukul 11.09 WIB, nilai tukar rupiah melemah ke level Rp 17.674 per dolar AS. Posisi itu lebih rendah dibandingkan penutupan akhir pekan sebelumnya yang berada di level Rp 17.602 per dolar AS.

Tekanan juga terlihat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan masih bertahan di zona merah dan berada di level 6.416, turun 303 poin. Pelemahan ini menambah daftar sentimen negatif di pasar domestik yang dalam beberapa waktu terakhir bergerak di bawah bayang-bayang arus keluar dana asing dan kekhawatiran inflasi.

Dalam analisis PT Reliance Sekuritas Indonesia, sentimen negatif disebut dipicu outflow setelah pengumuman hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Mei 2026. Kondisi tersebut dinilai memperbesar kecemasan pelaku pasar terhadap arah pergerakan aset domestik.

Direktur PT Reliance Sekuritas Indonesia Reza Priyambada mengatakan para pedagang saat ini masih diliputi kekhawatiran terhadap potensi guncangan inflasi. “Para pedagang khawatir akan guncangan inflasi yang muncul,” jelas Reza Priyambada pada Senin, 18 Mei 2026.

Dari sisi teknikal, pergerakan IHSG juga belum menunjukkan sinyal pemulihan yang kuat. Candle terakhir tercatat membentuk black spinning top, masih berada di bawah MA5 dan MA20, sementara indikator stochastic menunjukkan dead cross di area deep oversold. Gambaran itu memperkuat proyeksi bahwa tekanan di pasar saham masih mungkin berlanjut.

0 Komentar