Desak Gubernur BI Mundur, Rupiah Kian Tertekan dan Kekhawatiran Investor Kembali Membesar

nggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio
DESAK MUNDUR: Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio mendesak Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mundur setelah rupiah melemah, di tengah meningkatnya tekanan pasar dan sorotan terhadap kredibilitas bank sentral. Foto: Ist 
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Tekanan terhadap rupiah yang kian dalam kini menjalar menjadi tekanan politik terhadap pimpinan Bank Indonesia.

Di tengah nilai tukar yang terus melemah dan pasar keuangan yang bergerak lesu, Anggota Komisi XI DPR RI Primus Yustisio melontarkan desakan keras agar Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mempertimbangkan untuk mundur dari jabatannya.

Pernyataan itu disampaikan Primus dalam rapat bersama jajaran Bank Indonesia pada Senin (18/5/2026). Dalam forum tersebut, ia menilai situasi yang terjadi tidak bisa lagi dipandang sebagai gejolak biasa. Menurut dia, seorang pimpinan lembaga bank sentral harus menunjukkan sikap kesatria ketika tekanan terhadap mata uang domestik tak kunjung mereda.

Baca Juga:Pemkab Cirebon Bangun 446 Rumah RutilahuLatar Belakang Kandidat?, Pansel Umumkan Calon Dewan Pengawas dan Direksi BUMD Kota Cirebon

Ia lalu menyampaikan bahwa langkah mengundurkan diri bukanlah bentuk penghinaan, melainkan bisa menjadi sikap terhormat ketika seorang pejabat merasa tidak lagi mampu menjalankan tugas secara maksimal.

“Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia, sebagai tokoh utamanya, harus gentleman Pak. Harus berani melawan, ada apa ini? Kenapa ini? Pak Perry yang saya hormati, kadang-kadang Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan Pak. Saya berikan contoh, mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Tidak ada salahnya,” kata Primus.

Politikus PAN itu menegaskan, mundur dari jabatan publik tidak semestinya dipandang sebagai aib. Ia menilai langkah tersebut justru bisa menjadi bentuk tanggung jawab moral yang layak dihormati, seperti praktik yang kerap terlihat di sejumlah negara maju. “Itu bukan sikap penghinaan Pak. Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang, kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik, seperti itu. Tidak ada salahnya,” imbuhnya.

Primus juga menyoroti bahwa tekanan terhadap rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS, tetapi juga terhadap sejumlah mata uang asing lainnya. Baginya, kondisi itu menjadi tanda bahwa persoalan yang dihadapi rupiah tidak bisa dianggap ringan, apalagi jika investor global mulai mempertanyakan kemampuan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas.

Ia kemudian menegaskan bahwa pelemahan rupiah harus menjadi bahan evaluasi yang sangat serius. “Ini yang menurut saya harus tajam dipertanyakan, di pertemuan terakhir saya pertanyakan (rupiah) di Rp 16.800 (per US$) kenapa rupiah kita ini lemah. Kalau dibandingkan, dan ironisnya, (melemah) terhadap semua mata uang,” ujar dia.

0 Komentar