Kuatnya Nilai Tukar Uang Asing Terhadap Rupiah, PMI Justru Untung Banyak

 PMI Justru Untung Banyak
MALAH UNTUNG: Anah, PMI asal Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu. Anah bekerja di Hongkong dan kini tengah cuti. Gajinya naik jika dikonversi ke rupiah, dari sekitar Rp9 juta menjadi Rp11 juta. Foto: Anang Syahroni/Radar Indramayu
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Menguatnya nilai tukar uang asing terhadap rupiah justru membawa keuntungan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Nilai kiriman uang dari luar negeri menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.

Hal ini dirasakan oleh Anah (30), PMI asal Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. ia telah bekerja selama empat tahun di Hongkong. Saat ini, Anah tengah pulang kampung untuk berlibur.

Saat ditemui di kediamannya, Selasa (2/6/2026), Anah mengaku penguatan dolar Hongkong membuat nilai uang kiriman kepada keluarganya ikut meningkat. Biasanya, ia mengirim 1.500 dolar Hongkong setiap bulan untuk kebutuhan keluarga di rumah. Sebelum kurs dolar naik, jumlah itu sekitar Rp3 juta, namun kini nilainya meningkat. “Uang yang diterima keluarga lebih besar karena kurs dolar Hongkong sedang bagus. Ini cukup membantu kebutuhan sehari-hari, termasuk pendidikan anak,” ujarnya.

Baca Juga:Aktivitas Masjid Miftahul Jannah Pelopori Kurban Digital, Siap Wakafkan Sistem ke Seluruh IndonesiaSMA Telkom Sekar Kemuning Sudah Siapkan 5 Ruang Kelas

Anah juga mengungkapkan bahwa gajinya ikut meningkat jika dikonversikan ke rupiah. Ia menerima gaji sebesar 4.870 dolar Hongkong per bulan. Sebelumnya, nilai tersebut setara sekitar Rp9 juta, tapi kini mencapai sekitar Rp11 juta. “Saya bisa dikatakan tulang punggung keluarga, single parent juga, punya anak satu yang akan masuk TK. Ini jadi semangat saya untuk bekerja,” katanya.

Anah mengaku akan kembali bekerja ke Hongkong setelah masa cutinya selesai. Ia ingin menabung demi membuka usaha di kampung halamannya di Desa Tinumpuk.

Dampak penguatan dolar juga dirasakan keluarga PMI lainnya, Dasniti, warga Panyingkiran Lor, Kecamatan Cantigi, Indramayu. Ia mengaku bersyukur karena uang kiriman dari anaknya yang bekerja di Singapura meningkat signifikan.

“Dulu saya terima kiriman dari anak sekitar Rp2 juta, sekarang bisa sampai Rp3 juta. Itu digunakan untuk kebutuhan pokok dan biaya sekolah adik-adiknya,” ujarnya.

Dasniti juga menyebutkan bahwa gaji anaknya di Singapura ikut naik, dari sekitar Rp6 juta menjadi Rp7,5 juta per bulan. “Sebagai orang tua tentu senang, karena hasil kerja anak meningkat dan bisa membantu pendidikan adik-adiknya,” katanya.

Perlu diketahui, berdasarkan data dari Dinas Ketenaga Kerjaan (Disnaker) Kabupaten Indramayu, jumlah PMI Indramayu hingga tanun 2026 ini tercatat sebanyak 21.182 orang yang tersebar di 28 negara. Dari jumlah tersebut, laki-laki sebanyak 3.783 orang dan perempuan 17.399 orang.

0 Komentar