RADARCIREBON.ID – Pemerintah Kabupaten Cirebon bakal mempercepat penanganan rumah tidak layak huni (Rutilahu) milik Kasiyati (36), warga blok Karanganyar Wetan, Kelurahan Kemantren, Kecamatan Sumber.
Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Cirebon, Hilman Firmansyah ST mengatakan, pihaknya tengah menyusun berbagai skema percepatan agar pembangunan rumah Kasiyati tidak perlu menunggu terlalu lama.
Menurutnya, salah satu langkah yang sedang ditempuh adalah mengupayakan dukungan dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) para pengembang atau developer yang beroperasi di Kabupaten Cirebon.
Baca Juga:KPw BI Cirebon Buka Lomba Cerpen, 30 Karya Terbaik akan DibukukanKe Mana Satpol PP dan Dishub? Trotoar CSB sudah Dipagar, Parkir Liar di Badan Jalan MarakĀ
“Rumah Bu Kasiyati menjadi prioritas. Saat ini kami sedang memformulasikan penanganan yang paling cepat, salah satunya melalui dukungan CSR dari developer yang sedang kami upayakan,” ujar Hilman kepada Radar Cirebon.
Selain menjajaki bantuan CSR, kata Hilman, pihaknya juga berkoordinasi dengan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Cirebon.
Langkah ini dilakukan agar bantuan pembangunan rumah dapat segera direalisasikan tanpa harus menunggu APBD murni 2027.
“Kami juga sedang berikhtiar dan berkoordinasi dengan Baznas agar penanganannya bisa lebih cepat,” katanya.
Di sisi lain, lanjut Hilman, pihaknya juga tengah menyiapkan opsi penganggaran melalui APBD Perubahan 2026.
Dengan skema tersebut, pembangunan rumah Kasiyati berpeluang masuk dalam prioritas penanganan tahun ini.
Ia menambahkan, bahwa rumah Kasiyati bukan lagi masuk katagori rutilahu. Tapi, harus dibangun dari awal. Yakni pembangunan rumah baru layak huni.
Baca Juga:Percepat Agenda Mukab, Kadin Cirebon Buka Penjaringan Calon KetuaĀ Kelola 12 Ton Sampah tanpa Residu, Wabup Cirebon Puji Keberhasilan TPS 3R Ciawigajah
“Kalau rutilahu itu, anggaranya Rp20 juta. Namanya Peningkatan Kualitas (PK) layak huni. Sementara rumah Kasiyati harus dibangun dari awal mulai dari pondasi,” tukasnya.
Sebelumnya, kondisi rumah yang ditempati Kasiyati bersama keluarga menjadi sorotan karena dinilai sudah tidak layak huni.
Selama 15 tahun terakhir, mereka bertahan hidup di rumah berdinding geribik bambu dengan lantai tanah. Ironisnya, saat hujan besar tiba, lantai didalam rumah berubah menjadi becek.
Dari luar, bangunan tersebut tampak rapuh. Beberapa bagian tampak miring dan hanya disangga batang bambu seadanya.
Di rumah itulah Kasiyati tinggal bersama suaminya, Suhadi (40), dan putra sulungnya yang kini duduk di kelas VII SMP Negeri 3 Sumber.
