RADARCIREBON.ID – Hampir satu dekade sejak dibangun, Sub Terminal Wisata Paniis di Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Kuningan, belum juga berfungsi sesuai tujuan awalnya. Padahal, fasilitas yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah tersebut diproyeksikan menjadi gerbang utama transportasi wisata menuju berbagai destinasi unggulan di kawasan Kuningan timur.
Melihat kondisi tersebut, Kepala Desa Paniis, Raski Baskara, berinisiatif mengambil langkah untuk menghidupkan kembali kawasan terminal. Ia menggandeng pelaku usaha dan masyarakat agar kios-kios yang tersedia di area sub terminal dapat dimanfaatkan sehingga tidak terus terbengkalai.
Raski menjelaskan, terminal wisata tersebut sempat menjalani uji coba operasional beberapa waktu setelah selesai dibangun. Namun, hingga kini belum ada pengoperasian secara resmi sehingga aktivitas di kawasan terminal tidak berjalan sebagaimana yang direncanakan. Bahkan bangunan dan fasilitas yang ada perlahan mengalami kerusakan.
Baca Juga:Cemburu Berujung Maut, Pria Asal Cirebon Ditetapkan Tersangka Penganiayaan di Tamkot KuninganMahasiswa Kuningan Soroti KDMP, MBG hingga Pelemahan Rupiah
“Hingga sekarang belum ada pengoperasian secara resmi. Akibatnya sejumlah fasilitas mulai rusak karena lama tidak digunakan,” ujar Raski.
Menurutnya, sejak awal Sub Terminal Wisata Paniis dirancang sebagai titik transit bagi bus-bus pariwisata yang membawa wisatawan ke kawasan Pasawahan. Dari terminal tersebut, wisatawan selanjutnya akan diantar menggunakan kendaraan berukuran lebih kecil menuju berbagai objek wisata di sekitarnya.
Konsep tersebut diharapkan mampu mengurangi kepadatan kendaraan besar di kawasan wisata sekaligus meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung.
Sejumlah destinasi wisata yang masuk dalam jalur layanan terminal antara lain Wisata Alam Paniis, Desa Wisata Cibuntu, Kebun Raya Kuningan, Mata Air Cipaniis, Tujuh Sumur, Kajayaan, Talaga Remis, hingga Talaga Cicereum. Selain itu, Desa Paniis juga dikenal sebagai pintu gerbang menuju kawasan wisata Kecamatan Pasawahan.
Di sekitar terminal telah tersedia deretan kios yang disiapkan sebagai ruang usaha bagi masyarakat. Namun hingga saat ini sebagian besar kios tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena belum adanya aktivitas transportasi wisata yang masuk ke terminal.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, Raski mengaku telah mengajak para kepala desa serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kecamatan Pasawahan untuk mulai mengisi kios-kios yang tersedia. Berbagai jenis usaha diharapkan dapat hadir di kawasan tersebut, mulai dari pusat oleh-oleh khas daerah, warung makan, hingga kedai kopi.
