Sementara itu, Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Indramayu secara tegas menolak wacana pergantian nama Jawa Barat. “Kami dari Forum Pondok Pesantren (FPP) Kabupaten Indramayu menolak wacana perubahan nama Jabar. “Nama Jawa Barat sudah melegenda sejak lama, jangan diubah,” tegas Ketua FPP Kabupaten Indramayu KH Azun Mauzun kepada Radar Indramayu, Minggu (5/7/2026).
Menurutnya, Jawa Barat bukan sebatas identitas administratif wilayah semata, namun memiliki nilai sejarah, budaya, perjuangan, dan kebersamaan yang telah melekat kuat dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat. “Kalau diubah, menjadi titik perpecahan antara Sunda dan Jawa. Jawa Barat itu bukan semua Sunda, ada Jawa. Sehingga, sekali lagi, tak ada urgensi mengganti nama Jawa Barat menjadi nama lain seperti Tatar Sunda,” ujarnya.
Perubahan nama Jawa Barat, lanjutnya, bukan saja berkaitan dengan nama semata, tapi berkaitan dengan identitas dan jatidiri daerah yang sudah bertahun-tahun dijaga oleh para pendulu. “Jadi, kami secara tegas menolak perubahan nama provinsi karena tidak ada urgensinya. Masyarakat Jawa Barat sudah rukun dan guyub,” tandasnya.
Baca Juga:Melihat Lagi Penataan Ikon Baru Kota Cirebon, Penataan Hilir Kalibaru Masih Menanti AnggaranPemerintah Percepat Digitalisasi Administrasi dan Pelayanan
Seperti diketahui, wacana perubahan nama Jawa Barat menjadi Provinsi Tatar Sunda mengemuka setelah mayoritas fraksi di DPRD Jawa Barat menyetujui usulan tersebut untuk dikaji lebih lanjut dalam rapat Komisi I DPRD Jabar, Kamis (2/7/2026).
Salah seorang penggagas sekaligus akademisi, Prof Ganjar Kurnia yang tergabung dalam Komunitas Pengkaji Pergantian Nama, mengatakan perjuangan mengubah nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda telah berlangsung cukup lama dan usulan itu sudah beberapa kali disampaikan. “Kan naik turun ya. Sekarang terima kasih DPRD memberikan respons yang bagus,” katanya.
Mantan Rektor Unpad itu melanjutkan, ada sejumlah alasan terkait urgensi pergantian nama Provinsi Jawa Barat. Salah satunya terkait menjaga identitas Sunda agar lestari. “Istilah Sunda itu kan sangat besar secara geologis. Namun kian tergeser secara administratif,” ujarnya, dilansir dari Jabar Ekspres (Radar Cirebon Group).
Padahal, lanjutnya, Sunda itu memiliki kekuatan sosiologis, kekuatan kultural, hingga kekuatan psikologis yang berkaitan dengan jati diri. “Tapi paling tidak menurut saya secara geologis, secara geografis, kita tuh udah enggak ada lagi. Mana dulu Tatar Sunda begitu luasnya, nah sekarang kan enggak ada lagi istilah-istilah Sunda. Hanya ada yang namanya Jawa Barat,” jelasnya.
