Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas SMPN 2 Kota Cirebon, Sofwan Syaefurrijal, memastikan tidak akan ada celah bagi aksi perpeloncoan maupun bullying. Panitia sekolah mengedepankan prinsip kesederhanaan. Siswa baru hanya diwajibkan mengenakan seragam asal sekolah mereka, yaitu merah-putih SD.
Untuk kartu identitas peserta, SMPN 2 melarang penggunaan pita warna-warni atau atribut yang membedakan strata sosial. Siswa dibebaskan membuat papan nama sesuai kreativitas dengan gantungan tali sederhana. Fokus sekolah adalah menanamkan nilai karakter tanpa membebani finansial orang tua wali murid. “Tidak ada lagi kewajiban menyiapkan atribut atau perlengkapan yang aneh-aneh. Jalani saja secara normal dan sederhana,” kata Sofwan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (8/7/2026).
Langkah penyesuaian jadwal juga melahirkan skenario berbeda di sekolah lain. SMP Negeri 11 Kota Cirebon yang telah menggelar pra-MPLS pada Rabu (8/7/2026) kemarin, langsung tancap gas melaksanakan agenda inti mulai Kamis (9/7/2026) hari ini. Agenda inti tersebut terbagi dalam dua pekan, yakni pada 9, 10, 13, 14, dan 15 Juli 2026.
Baca Juga:Banyak Kepala Daerah Kena OTT KPK, Rekrutmen Calon Perlu Dirombak dan Parpol Harus SelektifHaji Sudah Beres, Tiga Warga Cirebon Masih di Saudi Belum Diizinkan Pulang
Sementara SMPN 5 Kota Cirebon merevisi jadwal agar seluruh rangkaian penyesuaian tak merenggut waktu libur akhir pekan Sabtu dan Minggu bagi siswa maupun tenaga pendidik. Sekolah yang berlokasi di Jalan Wahidin, Kota Cirebon ini memang bersiap menyambut 396 siswa baru yang terdistribusi ke dalam 11 rombongan belajar.
Guna menyiasati potensi kekakuan komunikasi antara guru dan murid baru, manajemen sekolah menerapkan metode tutor sebaya sebagai ujung tombak diseminasi materi. Langkah ini bertumpu pada aset internal sekolah.
Sebanyak 10 siswa SMPN 5 yang sebelumnya meraih predikat terbaik dalam pelatihan kader pencegahan narkoba oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cirebon didapuk menjadi mentor utama. Mereka melakukan pengimbasan ilmu kepada 100 pengurus OSIS dan MPK yang sudah terlatih berbicara di depan publik. Formula ini dinilai lebih adaptif dan minim tekanan psikologis bagi anak usia transisi dari SD ke SMP.
Pembina OSIS SMPN 5 Kota Cirebon, Asito Wijoyo, menjelaskan bahwa materi yang dibawa para tutor sebaya tidak melulu soal hukum narkotika. Isinya diperluas pada aspek manajemen emosi, ketahanan mental menghadapi tekanan pergaulan (peer pressure), serta teknik menghindari sirkel pertemanan negatif.
