RADARCIREBON.ID- Gelombang polemik biaya seragam sekolah di tingkat SMP Negeri Kota Cirebon tidak merembet ke jenjang SMA Negeri. Semua sekolah menengah atas negeri di Kota Cirebon memilih jalan steril. Salah satunya SMAN 4. Sekolah ini memutuskan bersih total dari transaksi jual-beli paket seragam bagi siswa baru.
Koperasi sekolah dipastikan tidak jualan pakaian. Urusan pengadaan pakaian sekolah diserahkan sepenuhnya kepada orang tua murid.
Kepala SMAN 4 Kota Cirebon H Nono Sudarsono saat ditemui Radar Cirebon, Selasa (21/7/2026), tampak menunjuk ke arah papan akrilik berwarna kuning dengan ukuran besar yang tertempel di dinding putih bertuliskan: SERAGAM SEKOLAH SMA NEGERI 4 KOTA CIREBON.
Baca Juga:Wow! Pajak Daerah Kabupaten Cirebon Sudah Rp201 M, Tak Termasuk Opsen PKB dan BBNKBPunya Tunjangan Besar untuk Rumah Mewah, Padahal DPRD Masih Mampu
Papan petunjuk visual tersebut menampilkan foto contoh pasangan siswa-siswi yang mengenakan lima jenis seragam harian sesuai hari penggunaan: seragam putih abu-abu untuk hari Senin, batik khas sekolah warna biru untuk Selasa, Pramuka untuk Rabu, baju adat Cirebon warna hitam lengkap dengan iket untuk Kamis, serta baju Muslim putih untuk Jumat.
Pajangan itu murni hadir sebagai acuan visual bagi orang tua murid. Langkah tegas ini diambil demi menjalankan instruksi Gubernur Jabar Dedi Mulyadi sekaligus menjaga fokus utama lembaga pendidikan pada proses belajar mengajar.
Manajemen sekolah ogah terbebankan oleh urusan dagang pakaian. Bisnis seragam di lingkungan sekolah dinilai sangat rentan memicu prasangka publik dan mengganggu kondusivitas.
“Kami di sekolah fokus ngurus dan mendidik anak-anak, kok malah direpotkan urusan seragam? Dengar instruksi pimpinan, ya sudah jalankan, tidak usah repot-repot jualan seragam,” jelas Nono.
Nono menilai urusan seragam bukanlah hal yang paling mendesak bagi masyarakat. Yang terpenting adalah esensi pendidikan itu sendiri. Sekolah memilih menghindari potensi masalah daripada mengejar keuntungan kecil dari penjualan seragam.
Prinsip keluwesan ini juga diterapkan pada pengadaan seragam olahraga. Sekolah tidak mematok satu produsen atau konveksi tertentu. Desain dan warna seragam olahraga dibebaskan berdasarkan kesepakatan internal masing-masing kelas bersama wali kelasnya.
Adanya variasi warna maupun corak antar-kelas tidak menjadi masalah bagi sekolah. Kalaupun ada sedikit perbedaan warna di lapangan, sekolah menganggapnya sebagai bagian dari kreativitas siswa.
