Pedagang Eks Kalibaru Kini Menunggu Ramai di Sudut Dukuh Semar

pedagang bunga di belakang Terminal Harjamukti
SUDUT DUKUH SEMAR: Kios-kios pedagang bunga di belakang Terminal Harjamukti (Dukuh Semar), kemarin. Penunjang seperti PJU untuk aktivitas malam hari dan papan petunjuk di pinggir jalan utama hingga kini belum terealisasi. FOTO: ADE GUSTIANA/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Nasib para pedagang bunga eks relokasi kawasan Kalibaru, Kota Cirebon, kini berada di persimpangan jalan. Dipindahkan ke lahan belakang Terminal Harjamukti (Dukuh Semar), tempat usaha baru mereka justru dinilai sepi dan minim perhatian. Beban ekonomi pedagang semakin bertambah melalui skema pembiayaan kios. Sebulan, nyicil kios mulai dari Rp1 juta hingga Rp2 juta.

Dari total 14 kios permanen yang disediakan pemerintah daerah, baru segelintir yang aktif beroperasi. Sebagian pedagang lain memilih membuka usaha mandiri di rumah atau di lokasi lain, sementara mayoritas kios di lokasi penataan masih dibiarkan kosong memprihatinkan.

Pantauan di lokasi pada Kamis siang (23/7/2026) memperlihatkan deretan kios berdinding putih dengan pintu rolling door hijau yang sebagian besar masih terkunci rapat. Pelataran luas di depan deretan kios belum tersentuh pengaspalan maupun pemasangan paving block.

Baca Juga:Barrel Pants Tak Lagi Sekadar Tren MusimanMusim Kemarau Picu Lonjakan Kebakaran

Kondisi tanah berbatu yang kering memicu debu tebal berterbangan saat diterpa angin kencang. Tumpukan bambu rangka karangan bunga tampak bersandar di depan kios yang nekat bertahan di tengah minimnya fasilitas dasar kawasan.

Akses lokasi yang membelakangi jalan raya utama menjadi kendala terbesar pedagang. Potensi pembeli langsung (walk-in) yang dulu menjadi andalan utama saat masih berjualan di pinggir jalan Kalibaru kini merosot tajam.

“Sekarang kami mengandalkan penjualan online. Di sini lokasinya membelakangi jalan raya, tidak ada orang lewat yang lihat buket pajangan toko,” ujar David, salah satu pedagang bunga relokasi dari Kalibaru, Kamis (23/7/2026).

Setelah sosialisasi awal oleh Walikota Cirebon Effendi Edo, pedagang mengaku belum merasakan pembinaan pendampingan yang berkelanjutan. Kebutuhan dasar penunjang operasional usaha, seperti instalasi Penerangan Jalan Umum (PJU) untuk aktivitas malam hari hingga papan petunjuk sentra bunga di pinggir jalan utama, hingga kini belum terealisasi. Pedagang seperti David sering kali harus menyelesaikan pesanan hingga pukul 00.00 WIB hanya dengan mengandalkan pancaran sinar lampu dari ruko sekitar.

Beban ekonomi pedagang semakin bertambah melalui skema pembiayaan kios. Pembangunan kios, kata David, dibiayai mandiri oleh pedagang melalui skema dana talangan Koperasi Simpan Pinjam (Kospin) yang difasilitasi Wakil Walikota Cirebon, Siti Farida Rosmawati. Pedagang harus mencicil Rp1 juta per bulan per unit kios selama tiga tahun. Pedagang yang menyewa unit lebih luas (2 kios) dikenakan cicilan hingga Rp2 juta per bulan.

0 Komentar