Musim Kemarau Picu Lonjakan Kebakaran

Kepala Disdamkarmat Kabupaten Cirebon Drs Dadang Suhendra MSi
SEMANGAT: Kepala Disdamkarmat Kabupaten Cirebon Drs Dadang Suhendra MSi (kiri) didampingi Kabid Kedaruratan, Eno Sudjana mengajak masyarakat waspada kebakaran di musim kemarau, kemarin. FOTO : SAMSUL HUDA/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Kasus kebakaran mengalami lonjakan siginifikan di musim kemarau tahun 2026. Trennya cukup mengkhawatirkan.

Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Cirebon mencatat, sejak Januari hingga Juli 2026 terdapat 125 kasus kebakaran.

Rinciannya meliputi 57 kebakaran rumah, 10 kebakaran pabrik, sembilan kebakaran toko, 37 kebakaran lahan.

Baca Juga:Honda Monkey Tampil dengan Pilihan Warna BaruDosen UT Dorong Guru SD di Cirebon Manfaatkan Mangrove sebagai Sumber Belajar

Jumlah itu hampir menyamai total sepanjang tahun 2025 yang mencapai 42 kejadian kebakaran lahan.

Selanjutnya, tiga kebakaran kendaraan roda empat, serta sembilan kebakaran fasilitas umum.

Sejumlah faktor menjadi pemicunya, selain faktor alam, sebagian besar peristiwa kebakaran diakibatkan kelalaian manusia.

Kepala Disdamkarmat Kabupaten Cirebon, Drs Dadang Suhendra MSi mengatakan, memasuki puncak musim kemarau, petugas dibuat sibuk menangani kebakaran lahan, semak belukar hingga tumpukan sampah liar.

“Peningkatan kejadian mulai terasa sejak awal Juli 2026. Dalam sehari, petugas kerap menerima empat hingga lima laporan kebakaran. Jumlah ini jauh lebih tinggi jika dibanding kondisi normal,” ujar Dadang didampingi Kabid Kedaruratan, Eno Sudjana kepada Radar Cirebon.

Menurutnya, cuaca panas dan kondisi lahan yang kering memang mempercepat penyebaran api.

Namun, penyebab utama kebakaran justru berasal dari aktivitas masyarakat yang kurang berhati-hati saat membakar sampah.

Baca Juga:Ajak Kuwu Perkuat Sinergi Bangun Desa, Haul ke-526, Momentum untuk Teladani Semangat Mbah Kuwu Sangkan Buang Sampah Sembarangan, Warga Didenda Rp500 Ribu

“Tapi sebagian besar bukan karena faktor alam. Banyak kasus dipicu oleh masyarakat yang membakar sampah lalu meninggalkan api sebelum benar-benar padam,” terangnya.

Diakui Dadang, pihaknya telah memetakan sejumlah wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi selama musim kemarau.

Lima sektor yang menjadi perhatian utama yakni Sumber, Weru, Pangenan, Greged, dan Ciledug.

“Wilayah-wilayah itu memiliki potensi kebakaran cukup tinggi saat musim kemarau karena banyak area terbuka, lahan kering, dan aktivitas masyarakat yang berisiko memicu api,” jelasnya.

Di tengah meningkatnya jumlah kejadian, pihaknya masih menghadapi keterbatasan personel.

Saat ini, petugas lapangan yang aktif hanya sekitar 160 orang, masih jauh dari kebutuan ideal sebanyak 300 personel.

Selain itu, kata Dadang, sebagian besar armada pemadam juga sudah berusia tua sehingga membutuhkan perhatian dalam aspek peremajaan.

Meski demikian, hingga pertengahan Juli kondisi pasokan air untuk kebutuhan pemadaman masih relatif aman.

0 Komentar