Tahap terakhir adalah keberanian terus belajar sepanjang hayat sehingga ilmu pengetahuan senantiasa berkembang.
Budaya Baca Harus Dimulai dari Rumah
Pada sesi diskusi, Puji guru SDN Bima mengajukan pertanyaan mengenai strategi membangun budaya membaca yang berkelanjutan.
Menjawab hal tersebut, Suherman menjelaskan bahwa terdapat dua pendekatan utama.
Pertama adalah pendekatan kultural, yaitu membangun budaya membaca sejak lingkungan keluarga. Menurutnya, pendidikan literasi idealnya sudah dikenalkan melalui kegiatan parenting, bahkan sejak calon orang tua mempersiapkan kehidupan berkeluarga.
Baca Juga:Debit Air Waduk Cipancuh Menyusut, Ratusan Warga Ramai-Ramai Tangkap IkanTingkatkan Kompetensi, Kwarcab Majalengka Latih Admin Kehumasan Kwarran
Pendekatan kedua adalah struktural, yaitu menciptakan lingkungan yang mendukung budaya membaca di sekolah maupun masyarakat. Dalam pendekatan ini, guru dan orang dewasa harus menjadi teladan nyata yang gemar membaca karena anak belajar terutama melalui contoh yang mereka lihat setiap hari.
Literasi sebagai Investasi Peradaban
Selama pelatihan, peserta juga diajak merefleksikan berbagai tantangan pendidikan saat ini, mulai dari persoalan rendahnya budaya baca hingga pentingnya membangun masyarakat yang berpikir kritis. Diskusi berlangsung hangat dan memunculkan kesadaran bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan kemampuan memahami, berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan secara bijaksana.
Melalui pelatihan ini, SDN Bima berharap semangat literasi tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar menjadi budaya sekolah yang hidup dalam keseharian guru maupun peserta didik.
Seperti pesan penutup yang digaungkan dalam kegiatan tersebut, budaya membaca bukan sekadar mencetak siswa yang pandai, tetapi membangun generasi pembelajar sepanjang hayat yang akan menentukan masa depan bangsa.
