Ditegaskannya, penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari kawasan hulu hingga hilir.
Penanganan di titik yang kerap tergenang saja dinilai tidak cukup untuk mengurangi risiko banjir.
“Penanganan banjir itu bukan hanya di titik banjirnya saja, tetapi wilayah hulunya. Di titik banjir perlu penanganan, hulunya pun perlu penanganan sampai dengan ke hilir,” ujarnya.
Baca Juga:Setelah ASN, BNN Siap Periksa 50 Anggota DPRD Kuningan Dukungan dari Provinsi Berkurang, Anggaran JKN Terancam Defisit, Dinkes Perketat Verifikasi Peserta PBI
Menurut Dede, kondisi geografis Sidawangi yang berada di dataran tinggi membuat kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi strategis untuk upaya pengendalian aliran permukaan.
Rorak, katanya, berfungsi seperti tampungan air skala kecil. Air hujan yang turun tidak langsung mengalir ke bawah, tetapi terlebih dahulu ditahan sehingga memiliki kesempatan lebih besar untuk meresap ke dalam tanah.
“Kalau bahasa simpelnya, embung mini. Supaya air itu tidak langsung ke bawah, tetapi ada yang tertahan dan terserap,” katanya.
Dede menyebut pembuatan rorak merupakan langkah jangka pendek untuk mengendalikan aliran permukaan.
Sementara itu, penanaman pohon menjadi strategi jangka panjang dalam menjaga fungsi kawasan hulu.
“Rorak itu untuk antisipasi jangka pendek. Jangka panjangnya penanaman pohon. Dua-duanya harus dilakukan,” pungkasnya. (den)
