Warga Penyangga Gunung Ciremai Perkuat Pasukan Pencegah Karhutla, Dukung Program KDM Jaga Lingkungan

Warga penyangga gunung Ciremai
Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning berikan pelatihan pemadaman di sekitar Obyek Wisata Batuluhur, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Rabu (2/9/2026).
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Puncak musim kemarau membuat warga desa penyangga kawasan Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan dan Majalengka, meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di tengah kondisi vegetasi yang mengering, masyarakat justru memperkuat peran mereka sebagai garda terdepan pencegahan kebakaran.

Gerakan tersebut dilakukan Masyarakat Peduli Api (MPA) Paguyuban Silihwangi Majakuning melalui pelatihan penggunaan peralatan pemadaman di sekitar Obyek Wisata Batuluhur, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Rabu (2/9/2026).

Sekitar 100 anggota MPA mengikuti pelatihan secara langsung bersama Damkar Kuningan untuk meningkatkan kemampuan menghadapi kebakaran di kawasan hutan. Pelatihan tidak hanya berfokus pada penggunaan mesin penyemprot air bertekanan sedang.

Baca Juga:Polisi Intensifkan Razia Knalpot Brong ke SekolahMajalengka Kebagian 300 Becak Listrik untuk Pengayuh Lansia 

Warga juga belajar membentuk kru pemadaman, mulai dari nozzleman, helper hingga operator. Pola komunikasi tim, penggunaan alat komunikasi dan aba-aba di lapangan turut dilatih agar proses pemadaman dapat berlangsung lebih terkoordinasi ketika menemukan titik api.

Ketua MPA Paguyuban Silihwangi Majakuning, H. Nandar Juniar Arif, S.Hut., mengatakan keberadaan masyarakat di sekitar kawasan hutan sangat penting dalam upaya deteksi dini. Anggota MPA yang tersebar di desa-desa penyangga dapat lebih cepat mengetahui jika muncul titik api sebelum kebakaran meluas.

“Ketika ada titik api, mereka yang paling awal tahu. Karena itu sejak 2021 kami selalu ikut mengantisipasi karhutla, aktif mendukung patroli TNGC, dan merawat sekatbakar,” kata Nandar.

Menurut dia, keterbatasan peralatan pada awal pembentukan MPA mendorong masyarakat melakukan berbagai upaya secara swadaya. Pengalaman memadamkan api secara manual menjadi pelajaran penting hingga akhirnya warga berinisiatif merakit dan menyediakan peralatan yang dinilai lebih efektif untuk menjangkau titik kebakaran.

Tidak hanya peralatan, paguyuban juga menyediakan penyemprot punggung atau water jet shooter, kendaraan pengangkut air dan kendaraan khusus untuk membawa peralatan pemadaman ke lokasi yang sulit dijangkau kendaraan besar. Dengan konsep tersebut, tim dapat membawa selang pemadam hingga ke area hutan yang memiliki sumber air seperti embung atau tempat penampungan air.

“Harapan kami kebakaran jangan sampai terjadi lagi. Tetapi antisipasi harus dilakukan sejak dini. Kalau titik api masih sedikit, harus cepat ditangani karena kalau sudah menyebar akan berbeda ceritanya dan jauh lebih sulit dipadamkan,” ujar Nandar.

0 Komentar