Rangkaian kemudian berlanjut dengan prosesi Babarit pada sore hari. Kegiatan diawali Rajah atau Kidung Pembuka, tari sakral, Tayub Menak, Tepak Soder, Tari Kangsreng, hingga Tari Masal. Acara ditutup dengan Murak Tumpeng atau makan bersama sebagai ungkapan syukur dan ngala berkah.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengatakan Seba Sapton dan Babarit merupakan tradisi leluhur yang perlu terus dipertahankan. Tahun ini, lokasi Sapton dipindahkan dari Lapang Cijoho ke Jalan Siliwangi agar dapat disaksikan lebih luas oleh masyarakat.
Menurut Dian, pemindahan lokasi tersebut mendapat sambutan positif. Antusiasme warga menunjukkan tradisi leluhur masih memiliki tempat di tengah masyarakat.
Baca Juga:Yonif TP 839/Satria Abyakta, Dari Pertahanan hingga Pengabdian untuk Warga KuninganKPPN Kuningan Bahas Evaluasi Standar Pelayanan Melalui Konsultasi Publik
“Kalau dulu Sapton hanya dinikmati peserta di Lapang Cijoho, sekarang dipindahkan ke Jalan Siliwangi. Antusiasme penonton dan masyarakat ternyata sangat bagus,” katanya.
Dian menilai menjaga tradisi merupakan bagian dari upaya merawat identitas sekaligus masa depan daerah. Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi daya tarik wisata budaya Kuningan.
Selain pertunjukan budaya, masyarakat juga menerima sayuran hasil Seba dari masing-masing Kademangan untuk dibawa pulang. Tradisi berbagi tersebut menjadi bagian dari simbol kebersamaan dalam perayaan Hari Jadi Kuningan.
Dian mengapresiasi antusiasme masyarakat dan panitia yang menyukseskan kegiatan tersebut. Ia berharap perayaan Hari Jadi ke-528 Kuningan semakin memperkuat silaturahmi dan semangat kebersamaan dalam membangun daerah.
“Semoga perayaan ini semakin memperkuat silaturahmi. Kita tetap guyub, kompak, dan bersama-sama membangun Kuningan ke depan,” pungkasnya. (ags)
