Nyimas Lenggangherang Jilid 5 Padukan Tradisi, Olahraga, dan Kebersamaan Masyarakat Desa Suganangan

Ist 
LEBIH KLASIK: Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar membuka Nyimas Lenggangherang Jilid 5 Sport and Ethno Carnaval di Stadion Rana Diraksa, Desa Suganangan, Kecamatan Cipicung, Kamis (10/9). 
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Tradisi dan semangat kebersamaan kembali menjadi bagian dari perayaan masyarakat Desa Suganangan, Kecamatan Cipicung, Kabupaten Kuningan. Memasuki tahun kelima, Nyimas Lenggangherang Jilid 5 Sport and Ethno Carnaval resmi digelar di Stadion Rana Diraksa.

Mengusung subtema “Lebih Klasik, Lebih Spektakuler”, gelaran tahunan tersebut memadukan pelestarian kearifan lokal dengan kegiatan olahraga serta penguatan nilai spiritual dan kebersamaan warga.

Beragam kegiatan disiapkan untuk memeriahkan agenda tersebut. Mulai dari karnaval kolosal yang menampilkan kekayaan budaya lokal, jalan santai, Senam Kuningan Melesat, hingga tabligh akbar.

Baca Juga:Knalpot Bising Kena Razia, Satlantas Kuningan Tertibkan Puluhan MotorBupati Sebut Karhutla Kawasan TNGC Kuningan Capai 40 Hektare

Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar mengapresiasi konsistensi masyarakat dalam mempertahankan Nyimas Lenggangherang hingga memasuki penyelenggaraan kelima. Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan komitmen warga dalam merawat tradisi sekaligus mengembangkan seni budaya lokal agar tetap kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.

Dian menilai, tema yang diusung tahun ini menjadi bukti bahwa budaya tradisional Sunda memiliki ruang untuk terus berkembang tanpa kehilangan identitasnya.

“Sesuai subtema yang diusung, kegiatan hari ini membuktikan bahwa budaya tradisional Sunda tidak pernah redup oleh zaman,” ujar Dian saat membuka acara.

Ia menegaskan, tradisi tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai warisan masa lalu yang ditampilkan dalam sebuah pertunjukan. Nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya perlu terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dian kemudian mengingatkan makna yang melekat dalam tradisi syukuran panen dan berbagai kegiatan budaya masyarakat Tatar Pasundan. Menurutnya, tradisi tersebut mengajarkan pentingnya saling membantu, menghargai, dan berbagi.

“Sedekah panen lain ngan ukur tradisi, ieu téh pangéling-ngéling kana silih tulungan, silih ajenan, jeung silih bagikeun,” tuturnya.

Ia menjelaskan, pesan tersebut menunjukkan bahwa budaya dapat menjadi sarana untuk menjaga hubungan sosial dan memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.

Baca Juga:Bupati Saba Lembur di Subang, Warga Antusias Sampaikan Aspirasi110 PNS Terima SK Pensiun, Bupati Kuningan Minta Persiapkan Mental 

“Pesan ini mengingatkan kita bahwa esensi dari setiap syukuran dan gelaran budaya adalah merawat kebersamaan. Budaya jangan hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu untuk ditonton, tetapi pegangan hidup untuk dijalani,” katanya.

0 Komentar