Selain itu, Kementan juga menyalurkan bantuan benih gratis bagi lahan yang mengalami gagal panen agar petani dapat segera kembali melakukan penanaman. Dukungan dan sinergi pengelolaan air di lapangan juga terus diperkuat bersama pemerintah daerah. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Pandeglang, Tanti Yulianti, mengatakan pihaknya meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kekeringan, termasuk pada sekitar 300 hektare lahan yang terindikasi mengalami kekeringan serta 19 hektare lahan yang terdampak gagal panen.
“Intervensi program di daerah kami terus berjalan, salah satunya melalui alokasi irigasi tersier dari Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian sebanyak 53 unit yang seluruhnya telah terealisasi 100 persen, di samping pengusulan 101 unit pompanisasi. Petugas penyuluh kami bersama para petani rutin mengidentifikasi potensi sumber air tanah dan sumur bor agar lahan pertanian yang rentan kekeringan tetap terairi,” jelas Tanti.
Ia berharap dukungan infrastruktur pertanian dari pemerintah pusat dapat terus diperkuat mengingat keterbatasan anggaran daerah dalam menjangkau seluruh wilayah yang berpotensi terdampak kekeringan.
Baca Juga:Kajian LBM PWNU Jabar di Tengah Problem Sosial, Bedah Hukum Desil Bansos, Begal, Pajak, hingga BotoksModal Ngutang, Bunga Besar, Furqon Balas Pernyataan Wali Kota soal KPBU APJ
“Kami sangat mengharapkan dukungan penuh dari kementerian, khususnya Ditjen Lahan dan Irigasi Pertanian, mengingat keterbatasan anggaran daerah untuk menjangkau seluruh area yang mengalami kekeringan. Bantuan ini sangat dibutuhkan agar petani kami tetap bisa berproduksi,” tambahnya, dilansir dari rilis Kementan, Minggu (13/9/2026).
Dalam pelaksanaannya, kegiatan OP Irigasi Tersier dilakukan melalui pola Bantuan Pemerintah (Banpem) berbasis padat karya. Sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 02 Tahun 2026, pengusulan kegiatan diintegrasikan melalui sistem e-Banper yang menerapkan pendataan berbasis digitalisasi spasial, mulai dari perekaman titik koordinat, panjang, hingga luasan saluran.
Sinergi pengelolaan jaringan irigasi juga terus diperkuat bersama Kementerian Pekerjaan Umum berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang Irigasi. Dalam pembagian peran tersebut, Kementerian PU mengelola jaringan irigasi primer dan sekunder, sementara Kementan berfokus memperkuat jaringan irigasi tersier hingga ke lahan pertanian.
Liferdi menambahkan, pengelolaan air secara presisi juga menjadi bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau. Melalui penerapan metode Alternating Wetting and Drying (AWD) atau macak-macak serta Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS), penggunaan air dapat dilakukan secara lebih efisien.
