RADARCIREBON.ID – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat infrastruktur pengairan pertanian di Jawa Barat dan Banten melalui pembangunan dan pemeliharaan 999 unit jaringan irigasi tersier.
Penguatan jaringan irigasi hingga ke tingkat lahan pertanian tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga sawah tetap produktif dan memastikan petani dapat mempertahankan musim tanam di tengah musim kemarau.
Langkah tersebut menjadi fokus dalam Rapat Koordinasi dan Evaluasi Kegiatan Operasional dan Pemeliharaan (OP) Irigasi Tersier yang digelar di Bandung.
Baca Juga:Kajian LBM PWNU Jabar di Tengah Problem Sosial, Bedah Hukum Desil Bansos, Begal, Pajak, hingga BotoksModal Ngutang, Bunga Besar, Furqon Balas Pernyataan Wali Kota soal KPBU APJ
Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari penguatan pengelolaan sumber daya air pertanian, khususnya di wilayah Jawa Barat dan Banten yang menghadapi risiko kekeringan selama musim kemarau.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pentingnya pembangunan dan perbaikan infrastruktur pengairan dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional.
“Air adalah faktor utama dalam pertanian. Karena itu, irigasi harus kita perbaiki dan pastikan air benar-benar sampai ke lahan pertanian agar petani bisa terus berproduksi,” tegas Mentan Amran.
Sementara Direktur Irigasi Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementan, Liferdi Lukman mengatakan sebanyak 999 unit jaringan irigasi tersier dialokasikan untuk wilayah Jawa Barat dan Banten melalui berbagai skema anggaran. Hingga saat ini, realisasi fisik kegiatan OP Irigasi Tersier telah mencapai 737 unit atau 73,77 persen.
Sementara itu, kegiatan yang bersumber dari Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) mencatatkan progres sebesar 88,04 persen atau 405 unit dari total alokasi 460 unit. Adapun kegiatan yang bersumber dari anggaran aspirasi di wilayah Jawa Barat dan Banten masih dalam tahap verifikasi. Sejumlah lokasi kegiatan BPLIP juga tengah memasuki proses verifikasi pascarelokasi.
“Untuk kita ketahui bersama, Indonesia saat ini sudah memasuki musim kemarau yang bertepatan dengan El Nino, sehingga durasi kemarau di sejumlah wilayah cukup panjang, termasuk di Jawa Barat dan Banten. Keberadaan jaringan irigasi sangat vital bagi keberlanjutan produksi pertanian karena air adalah sumber utama kehidupan,” ujar Liferdi.
Menurutnya, Kementan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga pertanaman dan meminimalkan risiko gagal panen. Pemanfaatan air permukaan dilakukan melalui perbaikan saluran tersier, perpipaan, dan perpompaan. Sementara optimalisasi air tanah dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan jaringan irigasi air tanah (JIAT).
