RADARCIREBON.ID – Ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membayangi Kabupaten Majalengka selama musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majalengka mencatat 49 kejadian karhutla dengan luas area terdampak sekitar 47,54 hektare.
Di sisi lain, BPBD bersama unsur terkait telah menyalurkan sekitar 250 ribu liter air bersih kepada masyarakat yang terdampak kekeringan.
Kepala Pelaksana BPBD Majalengka Agus Tamim mengatakan kekeringan dan karhutla menjadi dua ancaman bencana yang perlu mendapat perhatian serius selama musim kemarau. Penanganan dilakukan secara terpadu untuk meminimalkan dampaknya terhadap masyarakat.
Baca Juga:Warga Randusari Sepakat Relokasi, DPRD Kuningan Diminta Bentuk Tim Khusus BendunganPemkab-Organisasi Kemasyarakatan Bantu Korban Kebakaran
“Penanganan harus dilakukan secara cepat dan terpadu, baik terhadap kekeringan maupun kebakaran hutan dan lahan. Dengan koordinasi yang baik, dampak bencana diharapkan dapat ditekan dan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan ketika membutuhkan bantuan,” kata Agus saat dikonfirmasi, Selasa (15/9/2026).
Berdasarkan data BPBD Majalengka, pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat bencana kekeringan serta karhutla di Kabupaten Majalengka. Status tersebut berlaku sejak 2 Juni hingga 31 Oktober 2026 dan dapat diperpanjang, diperpendek, dinaikkan, maupun diturunkan sesuai perkembangan kondisi di lapangan.
Penetapan status tersebut mengacu pada Keputusan Bupati Majalengka Nomor 100.3.3.2/KEP.567-BPBD/2026. Kedua ancaman bencana itu ditempatkan dalam satu status karena memiliki keterkaitan erat dengan kondisi musim kemarau dan menurunnya ketersediaan air.
BPBD mencatat 49 kejadian karhutla sepanjang periode pendataan 2026. Luas area terdampak mencapai sekitar 47,54 hektare dengan estimasi kerugian Rp243,98 juta.
Kecamatan Cigasong menjadi salah satu wilayah dengan kejadian cukup tinggi. Tercatat tujuh kejadian kebakaran dengan luas area terdampak sekitar 13,95 hektare dan estimasi kerugian Rp79,19 juta.
Selain Cigasong, kebakaran juga terjadi di sejumlah wilayah, di antaranya Desa Babakan Jawa dan Kulur serta beberapa desa lainnya di berbagai kecamatan.
“Potensi kebakaran hutan dan lahan juga menjadi perhatian, terutama di wilayah yang mengalami kondisi kering. Upaya pencegahan dan penanganan harus dilakukan secara cepat agar kebakaran tidak meluas,” ujar Agus.
Baca Juga:Sehari, Dua Kebakaran Lahan di Kecamatan LeuwimundingKemarau Panjang, Ribuan Warga Salat Istisqa di Alun-alun
Sementara itu, kekeringan mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah yang masuk kategori risiko tinggi dan sedang. Pemetaan BPBD menunjukkan sejumlah desa memiliki potensi terdampak kekeringan cukup tinggi.
