Ia menambahkan, industri garmen saat ini lebih banyak menyerap tenaga kerja perempuan. Bahkan sekitar 90 persen pekerja di sektor tersebut didominasi perempuan karena berkaitan dengan pekerjaan produksi dan menjahit.
Meski begitu, pemerintah desa bersama Karang Taruna mulai memikirkan pengembangan ekonomi lain agar manfaat industri juga dirasakan masyarakat yang tidak bekerja langsung di pabrik. Salah satunya melalui pengelolaan limbah tekstil menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi.
“Limbah industri nantinya bisa dikelola bersama Karang Taruna untuk dijadikan peluang usaha tambahan,” katanya.
Baca Juga:Borneo FC Rebut Puncak Klasemen Usai Tekuk Persik Kediri, Geser Persib BandungBaznas Salurkan Bantuan Korban Kebakaran di Ligung
Data pemerintah desa mencatat, Desa Cieurih memiliki sekitar 4.700 jiwa yang tersebar di 1.570 kepala keluarga dan lima dusun, yakni Dusun Manis, Pahing, Puhun, Wage, dan Kliwon. Mayoritas warga bekerja sebagai buruh, petani, pekerja bangunan, hingga pekerja serabutan.
Mujahidin menegaskan, pemerintah desa meminta perusahaan memprioritaskan masyarakat lokal, baik saat proses pembangunan maupun ketika pabrik mulai beroperasi.
“Kami meminta tenaga kerja non-ahli diprioritaskan untuk masyarakat lokal, termasuk warga Desa Cieurih dan sebagian warga Desa Legok karena ada lahan yang masuk wilayah tersebut,” tegasnya.
Ia memastikan proses pembebasan lahan telah selesai dan tidak ada persoalan sengketa di lapangan. Pemerintah desa berharap pembangunan industri tersebut berjalan lancar dan benar-benar membawa dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. (Bud)
