Akibatnya, akses kendaraan dari Sedong Kidul menuju Karangwuni tidak bisa dilalui sama sekali. Warga di Blok Lojikaum pun terisolasi karena jalur utama lumpuh total.
Sekdes Karangwuni, Feby Apriyadi, mengatakan banjir datang sangat cepat saat sebagian warga tengah beraktivitas di rumah. “Air naiknya cepat sekali. Tidak lama setelah hujan deras, permukiman langsung tergenang. Jalan penghubung juga ikut longsor,” ujarnya.
Data sementara pemerintah desa mencatat sedikitnya empat rumah warga terdampak kerusakan akibat banjir dan longsor. Dua rumah mengalami kerusakan berat, masing-masing milik Barkah dan Ono. Sementara rumah milik Arweti dan Beno mengalami kerusakan ringan.
Baca Juga:SMAN 2 Cirebon Ditunjuk Jadi Sekolah Maung, Seleksi Siswa Dipercepat, Standar Cambridge DiberlakukanJejak Duit Gedung Setda Diungkap, Hari Ini BPK Ikut Sidang, Furqon: Kami Dorong JPU Dalami Keterangan Agung
Tidak hanya permukiman warga, bencana juga memutus jalur vital penghubung masyarakat menuju wilayah Nagrak, Lojikaum hingga Kalimati arah Kabupaten Kuningan. Aktivitas warga pun terganggu. Mulai dari anak sekolah, pekerja harian, hingga distribusi kebutuhan pokok ikut terdampak.
Tercatat sebanyak 147 kepala keluarga atau sekitar 387 jiwa terdampak langsung akibat bencana tersebut. Kerugian materi diperkirakan mencapai Rp100 juta.
Pemerintah Desa Karangwuni bersama Pemerintah Desa Sedong Kidul telah melakukan peninjauan ke lokasi sejak Selasa pagi (19/5/2026). Sejumlah langkah darurat mulai dilakukan, seperti pendataan warga terdampak, evakuasi barang-barang milik warga, hingga pembersihan material lumpur yang menutup area permukiman.
Selain itu, dokumentasi kerusakan juga dilakukan sebagai bahan pengajuan bantuan ke pemerintah daerah. Feby pun mengingatkan warga agar tetap berhati-hati, terutama yang tinggal di sekitar titik longsor. Pasalnya, kondisi tanah masih labil dan berpotensi terjadi longsor susulan apabila hujan kembali turun. “Hingga sekarang kondisi tanah masih rawan bergerak. Warga diminta tetap waspada,” katanya.
Sementara itu, hingga Selasa siang alat berat belum terlihat diterjunkan ke lokasi. Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan penanganan darurat agar akses jalan bisa kembali dibuka dan aktivitas masyarakat kembali berjalan normal. (den)
