Pondasi Ambrol, Jembatan Penghubung Dua Desa di Kedawung Cirebon Nyaris Ambruk

Jembatan penghubung Desa Kedungdawa
NYARIS AMBRUK: Kondisi Jembatan penghubung Desa Kedungdawa dan Kedungjaya di Kecamatan Kedawung tampak menggantung setelah pondasi di salah satu sisi ambrol tergerus arus Sungai Kedungpane, kemarin. FOTO: KHOIRUL ANWARUDIN/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Kondisi jembatan penghubung Desa Kedungdawa dan Desa Kedungjaya Kecamatan Kedawung Kabupaten Cirebon, kini dalam kondisi kritis.

Pondasi penyangga di salah satu sisi jembatan ambrol akibat tergerus derasnya arus Sungai Kedungpane setelah hujan deras melanda wilayah Cirebon dalam beberapa hari terakhir.

Berdasarkan pantauan di lokasi, Kamis (21/5), bagian pondasi jembatan terlihat ambruk dan menyisakan rongga besar di bawah badan jembatan. Retakan pada konstruksi juga tampak jelas sehingga membuat kondisi jembatan rawan ambruk.

Baca Juga:Mahasiswa S2 Kesmas UBHI Gelar Pengabdian Masyarakat Ketika FK UGJ Menjadi Rujukan Belajar bagi Mahasiswa Belanda, Praktik Lapangan hingga Mempelajari Kasus Penya

Warga sekitar, Kartimo (70) mengatakan, kerusakan jembatan terus bertambah parah karena bantaran sungai di sisi tersebut terus terkikis arus.

Menurutnya, tidak adanya senderan di bagian bantaran membuat abrasi semakin cepat terjadi.

“Dulu bantaran sungainya masih jauh. Sekarang terus tergerus hingga mendekati rumah saya,” ujar Kartimo.

Ia mengaku khawatir, kondisi jembatan membahayakan warga yang melintas setiap hari.

Pasalnya, jembatan tersebut menjadi akses utama masyarakat Desa Kedungdawa dan Kedungjaya, termasuk para pelajar.

“Kalau sampai putus, warga harus memutar jauh karena jembatan lain lokasinya cukup jauh,” katanya.

Kartimo juga menyebut, banjir sempat merendam rumah dan kandang miliknya saat hujan deras beberapa waktu lalu. Kondisi tersebut, menurutnya, belum pernah terjadi sebelumnya.

Baca Juga:BI Jawa Barat Gelar Pelatihan dan Uji Kompetensi BNSP Juleha Siswi SD Sains Islam Al Farabi Sumber Raih Gelar Winner Miss Hijab Cilik Jabar 2026

“Air sampai masuk ke rumah dan kandang. Dulu tidak pernah banjir seperti ini,” ucapnya.

Meski jembatan berdiri di atas tanah miliknya, Kartimo mengaku telah mengikhlaskan lahannya digunakan untuk kepentingan masyarakat.

“Yang penting bisa dipakai warga dan anak-anak sekolah,” tuturnya.

Sementara itu, Kuwu Desa Kedungdawa, Sanita mengatakan, kerusakan jembatan sangat membahayakan pengguna jalan, terutama pelajar.

Akibat kondisi tersebut, sebagian pelajar kini harus memutar hingga sekitar tiga kilometer demi keselamatan.

Sanita menjelaskan, banjir yang kerap terjadi dipicu meluapnya Sungai Kedungpane.

Empat desa, yakni Kedungdawa, Kedungjaya, Kedawung, dan Pilangsari, bahkan telah mengajukan normalisasi sungai ke Balai Besar Wilayah Sungai Cimanuk Cisanggarung (BBWSCC) sejak 2023. Namun hingga kini belum ada realisasi.

Menurutnya, kondisi banjir saat ini semakin parah dibanding sebelumnya. Ia menduga, pagar milik sebuah pabrik di sisi timur mempengaruhi aliran air sehingga debit banjir lebih banyak mengarah ke permukiman warga di sisi barat.

0 Komentar