CIREBON-Aktivitas Terminal Sumber, di Kabupaten Cirebon, memprihatinkan. Kondisinya tak seramai dulu.
Padahal, pengelolaan terminal tersebut telah diambil alih Pemprov Jabar. Kondisi tersebut membuat para sopir angkot hingga operator bus mengeluhkan kesulitan pendapatan yang terus menurun lantaran minimnya penumpang.
Sepinya penumpang, membuat sebagian sopir kesulitan memenuhi biaya operasional harian. Tidak sedikit yang mengaku penghasilannya kini hanya cukup untuk bertahan hidup, bahkan membeli BBM pun terasa berat.
Baca Juga:Akhir Penantian 22 Tahun, Arsenal Resmi Juara Liga Inggris 2025/2026Unai Emery League! Pelatih Asal Spanyol Ini Kian Kukuh Jadi Raja Liga Europa
Plh Koordinator Terminal Tipe B Sumber, Kadira mengatakan, Terminal Sumber berada di bawah pengelolaan UPTD Wilayah IV Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat. Dinas ini membawahi empat terminal, yakni Terminal Sumber, Indramayu, Ciledug, dan Losari.
Menurutnya, kendaraan yang rutin masuk ke terminal didominasi angkutan dalam provinsi seperti bus CBU dan angkutan kota Gunungsari-Sumber (GS). Namun dalam beberapa tahun terakhir, jumlah penumpang terus mengalami penurunan drastis.
“Ramainya itu paling saat jam anak sekolah berangkat dan penumpang pasar malam hari,” ujar Kadira, Jumat (22/5).
Dijelaskannya, penurunan minat masyarakat menggunakan transportasi umum sebenarnya sudah berlangsung sejak sebelum pandemi Covid-19.
Situasi semakin memburuk seiring meningkatnya kepemilikan kendaraan pribadi di masyarakat.
“Sebelum pandemi juga jumlah armada sudah mulai berkurang karena penumpang sepi. Sekarang hampir setiap rumah punya kendaraan sendiri,” katanya.
Kata Kadira, saat ini kendaraan yang masih aktif masuk ke Terminal Sumber diperkirakan hanya sekitar 45 unit.
Meski retribusi terminal sudah dihapus, para sopir tetap kesulitan memenuhi kebutuhan operasional harian.
Baca Juga:Prof Ipong Resmi Jadi Rektor Unwir, LLDIKTI dan Bupati Tekankan Tata Kelola Kampus dan SDM DosenRangka Depan Motor Patah, Damkar Indramayu Bantu Evakuasi
“Angkot GS yang sering masuk sekitar 30 sampai 40 unit. Banyak sopir mengeluh untuk beli BBM saja susah karena sepi penumpang,” ungkapnya.
Di sisi lain, lanjutnya, Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Barat memastikan hingga kini belum ada pembahasan terkait kenaikan tarif angkutan umum.
“Kami mengajak masyarakat kembali menggunakan transportasi umum untuk membantu keberlangsungan sektor angkutan sekaligus mengurangi kemacetan,” tuturnya.
Sementara itu, Pengurus Bus CBU, Andi, menyebut jumlah armada bus yang beroperasi juga terus menyusut. Dari sebelumnya mencapai 20 unit, kini tersisa sekitar 16 unit yang masih aktif melayani penumpang.
