RADARCIREBON.ID – Sejumlah SMA negeri favorit di Kota Cirebon dipastikan tidak membuka penerimaan murid baru pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahap 1 maupun Tahap 2. Seluruh kuota reguler di sekolah-sekolah tersebut telah habis terserap sejak fase Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB).
Fenomena ini memicu situasi unik di lapangan, di mana lobi sekolah yang biasanya disesaki antrean pendaftar kini mendadak lengang.
Sistem PCMB yang diterapkan tahun ini terbukti langsung mengunci ketersediaan kursi di sekolah pilihan. Jalur prestasi, domisili, hingga afirmasi yang diajukan sejak akhir Mei telah memenuhi daya tampung maksimal kelas.
Baca Juga:Inggris vs Kroasia, Saatnya Ulangi Kejayaan 1966Gelombang Pertama Lancar, Pemulangan Jamaah Haji Indonesia dari Tanah Suci
Akibatnya, sekolah yang masuk kategori unggulan tidak lagi memiliki sisa kuota untuk dilempar ke fase pendaftaran reguler berikutnya. Kondisi sepi pasca-PCMB terlihat jelas di SMAN 1 Cirebon. Lobi utama sekolah yang pada pekan-pekan sebelumnya dipadati ratusan orang tua siswa, pada Rabu (17/6/2026) terpantau sunyi.
Tidak ada hiruk-pikuk berkas ataupun antrean verifikasi digital. Di area halaman, hanya terlihat beberapa kelompok siswa yang sedang melaksanakan latihan kegiatan ekstrakurikuler d lapangan sekolah setempat.
Meski demikian, posko informasi sekolah tidak sepenuhnya steril dari kedatangan warga. Gelombang orang tua murid masih terlihat datang silih berganti. Mayoritas dari mereka datang bukan untuk mendaftar, melainkan mencari kepastian nasib anak-anak mereka yang gagal bersaing di fase pemetaan sebelumnya.
Ketua SPMB SMAN 1 Cirebon, Karnengsih, membenarkan nihilnya pembukaan pendaftaran reguler untuk Tahap 1 di sekolahnya. Seluruh daya tampung standar sudah terisi penuh oleh sistem pemetaan otomatis. Layanan tatap muka yang dibuka saat ini murni dialokasikan untuk memberikan edukasi dan penjelasan kepada masyarakat yang masih bingung dengan hasil seleksi sistem.
“Gak ada tahap 1 karena kuota sudah terpenuhi, kalau pun ada tahap 2 nanti di jalur afirmasi KETM,” ujar Karnengsih di sekolah yang berlokasi di Jalan Wahidin, Kota Cirebon, Rabu (17/6).
Menurut Karnengsih, posko pelayanan tetap disiagakan karena besarnya animo psikologis dari para orang tua. Banyak warga yang masih penasaran dan belum bisa menerima kenyataan bahwa anaknya terlempar dari sistem pilihan. Petugas informasi di lapangan harus bekerja ekstra memberikan pemahaman logis terkait regulasi pembagian kuota ini.
