Sebanyak 18 pendaftar tersebut memenuhi sekitar setengah dari total kuota khusus untuk jalur nilai rapor yang dialokasikan pihak sekolah pada Tahap 1 ini. “Iya, 35 (kuota jalur rapor). Hari ini sudah 18 pendaftar,” jelas Wahyu seraya mencocokkan data pada papan rekapitulasi panitia.
Total kuota yang diperebutkan pada pelaksanaan SPMB Tahap 1 di SMPN 11 Kota Cirebon sebanyak 176 siswa. Tahap 1 mengakomodasi dua rumpun jalur utama, yaitu Jalur Afirmasi dan Jalur Prestasi.
Jalur Afirmasi dibagi beberapa kategori meliputi Keluarga Ekonomi Tidak Mampu (KETM) 12 persen, Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (MBK) 2 persen, Kondisi Khusus 1 persen, Anak Guru 5 persen, dan Mutasi tugas orang tua 5 persen.
Baca Juga:Fokus Dalam Negeri, Batal ke Kazan, Mensesneg Ungkap Alasan Prabowo Tidak Hadiri KTT ASEAN-RusiaMemantau SPMB Jawa Barat 2026, Kuota PCMB Ludes, Sekolah Favorit Tutup Pendaftaran Tahap 1
Rumpun Jalur Prestasi terdiri atas Nilai Rapor 10 persen, Academik 5 persen, Non-Akademik 10 persen, dan Estetika sebesar 5 persen. Kombinasi sub-jalur ini membentuk total daya tampung Tahap 1 sebesar 176 siswa. Skema waktu diatur ketat untuk mencegah tumpangan dokumen. Pendaftaran Tahap 1 berlangsung 18 Juni hingga 22 Juni 2026. Verifikasi berkas dijadwalkan tanggal 22 Juni hingga 24 Juni 2026.
Hasil kelulusan Tahap 1 diumumkan terbuka pada 25 Juni 2026, dilanjutkan tahapan daftar ulang calon siswa lolos tanggal 26 Juni hingga 27 Juni 2026. Bagi calon peserta didik yang tidak lolos Tahap 1, panitia membuka pendaftaran Tahap 2 (Jalur Domisili atau Zonasi) mulai 29 Juni hingga 2 Juli 2026, dengan pengumuman akhir pada 6 Juli 2026.
Mekanisme pendaftaran tahun ini menerapkan sistem full online layaknya tingkat SMA. Namun, karakteristik pengoperasian aplikasi tingkat SMP dinilai jauh lebih adaptif dan ringan. Orang tua siswa diberikan keleluasaan mendaftar mandiri dari rumah menggunakan ponsel pintar atau komputer tanpa memadati area sekolah. Sekolah hanya menjadi fasilitator dan verifikator fisik dokumen pendukung.
Wali murid yang datang ke sekolah mayoritas mengalami kendala perangkat atau kurang memahami literasi digital. Di ruang pelayanan sekolah setempat, terpantau antrean ibu-ibu duduk rapi di koridor luar. Mereka memegang dokumen di dalam map sembari menunggu nomor antrean dipanggil panitia untuk memasuki ruang operator.
Untuk mengantisipasi kendala teknis dan membimbing orang tua yang kesulitan, manajemen SMPN 11 Kota Cirebon menyiagakan tim teknis khusus di lokasi sekolah. Tim bertugas menyaring berkas sebelum dimasukkan ke sistem komputerisasi utama. “Empat operator. Dan itu sangat cukup,” kata Wahyu.
