Sebelumnya, pada 10 Juni 2026, PT Pertamina (Persero) resmi menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi. Yakni, Pertamax dan Pertamax Green. Semula harga Pertamax di level Rp12.300 per liter, melejit menjadi Rp16.250 per liter atau naik Rp3.950 per liter.
Begitupun dengan harga Pertamax Green turut mengalami kenaikan dari sebelumnya dibanderol Rp12.900 per liter, kini dijual dengan harga Rp17.000 per liter, naik Rp5.000 per liter.
Sementara itu, harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar masih berada di angka yang sama alias tidak mengalami kenaikan harga. Pertalite masih tetap dibanderol Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Baca Juga:Jelang Liburan Mobilitas Transportasi Dijaga, Pertumbuhan Ekonomi DipacuKKMP Kesambi: Bekas Perpustakaan, Harga yang Ditawarkan Relatif Terjangkau
Sementara itu, dari Jakarta, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta masyarakat bersabar terkait peluang penurunan harga BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax. Menurutnya, kebijakan penyesuaian harga baru diberlakukan sekitar dua hingga tiga pekan sehingga masih perlu melihat perkembangan ke depan.
Bahlil menjelaskan, pemerintah masih memantau pergerakan harga minyak mentah dunia sebelum memutuskan ada tidaknya perubahan harga Pertamax. Karena itu, ia belum dapat memastikan apakah harga BBM tersebut akan turun pada pekan depan. “Kita lihat aja (nanti),” ujar Bahlil kepada wartawan di Gedung DPR RI, Selasa (30/6/2026).
Ia juga mengingatkan agar masyarakat dan media melihat kebijakan penyesuaian harga BBM secara menyeluruh. Menurutnya, saat harga minyak dunia melonjak dalam beberapa bulan terakhir, pemerintah memilih tidak langsung menaikkan harga Pertamax. “Teman-teman media juga harus fair. Saat harga minyak naik selama lebih dari dua bulan, hampir tiga bulan, pemerintah tidak langsung menaikkan harga. Sekarang baru naik sekitar dua hingga tiga minggu, sudah ditanya soal penurunan harga,” terang Ketum Golkar itu. (awr/dsw/rc)
