INDRAMAYU – Guna memastikan kesiapan dan keandalan seluruh personel serta fasilitas dalam menghadapi kondisi darurat, PT Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan sukses melaksanakan Rescue Emergency Drill (simulasi keadaan darurat penyelamatan) di area objek vital nasional tersebut, Jumat (3/7).
Skenario drill kali ini menguji tingkat kesulitan tinggi, yakni penyelamatan seorang pekerja yang mengalami kondisi darurat medis saat melakukan pekerjaan di atas menara flare (obor pembakar). Proses evakuasi dari ketinggian tersebut dilakukan secara taktis menggunakan bantuan alat berat crane untuk menurunkan korban ke area aman secara cepat dan terkendali.
Agenda krusial ini dikomandoi oleh Fungsi HSSE bagian Emergency & Insurance, bekerja sama secara intensif dengan lintas fungsi terkait, meliputi bagian Health (Medis), Maintenance Area, serta Engineering.
Baca Juga:Peserta KB MOW dan MOP Lampaui TargetMajalengka Bakal Miliki Kawasan Industri Baru, Namanya KIMS di Sumberjaya
Section Head Emergency & Response Kilang Balongan, Nyono Safurun memberikan rincian evaluasi teknis pasca-simulasi. Menurutnya, ada lima capaian utama yang berhasil divalidasi melalui pelaksanaan rescue drill khusus ini.
“Pertama, kami berhasil menguji validitas Emergency Response Plan (ERP), di mana response time penggelaran personel dan peralatan berada dalam koridor waktu aman instalasi vital. Kedua, sinkronisasi lintas fungsi berjalan sangat solid, di mana komando teknis HSSE, kesiapan mekanis crane dari tim Maintenance dan Engineering, serta kesigapan medis dari tim Health terintegrasi tanpa ada tumpang tindih peran masing-masing,” paparnya.
Nyono menjelaskan poin ketiga dan keempat terkait kompetensi tim di lapangan serta evaluasi berkelanjutan. Simulasi ini menguji secara langsung keahlian spesifik personel dalam high angle rescue (penyelamatan di medan vertikal atau ketinggian) beserta kelaikan perangkat penunjangnya. Keempat, melalui debriefing pasca-simulasi, pihaknya melakukan evaluasi menyeluruh.
“Kami melakukan identifikasi gap atau celah komunikasi dan operasional secara riil sebagai bahan evaluasi dan perbaikan prosedur (continuous improvement) ke depan,” ujarnya.
Sedangkan poin kelima menekankan bahwa ketajaman mitigasi di lapangan secara otomatis mendukung penguatan manajemen risiko perusahaan (insurance management).
“Kilang yang rutin menguji skenario ekstrem secara terukur menunjukkan kematangan mitigasi, yang tidak hanya mematuhi regulasi ketat ketenagakerjaan, tetapi juga memberikan perlindungan maksimal terhadap aset dan tenaga kerja dari risiko bisnis,” tegas Nyono.
