DLH Waspadai Potensi Kebakaran Spontan di TPA

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dede Sudiono ST MSi
WASPADA  EL NINO: Kepala Dinas Lingkungan Hidup Dede Sudiono ST MSi terus memantau perkembangan cuaca bersama BMKG dan BPBD untuk antisipasi kebakaran termasuk di lokasi TPA, kemarin. FOTO: IST/RADAR CIREBON
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Ancaman kemarau ekstrem mulai diantisipasi serius Pemerintah Kabupaten Cirebon.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon meningkatkan kewaspadaan menghadapi fenomena El Nino Godzilla.

Fenomena tersebut diperkirakan membawa musim kemarau yang lebih panjang, suhu udara lebih tinggi, serta meningkatkan risiko gangguan lingkungan, terutama kebakaran lahan dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Baca Juga:Kunjungi Ponpes BIMA Cirebon, Menag Apresiasi Model Pendidikan Berdaya Saing GlobalPemerintah Desa di Cirebon Kembangkan Digitaisasi Layanan Berbasis Website

Kepala DLH Kabupaten Cirebon, Dede Sudiono ST MSi mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan cuaca bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Berdasarkan hasil pemantauan, puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus hingga September 2026.

“Yang paling kami waspadai adalah munculnya titik panas, kebakaran lahan, termasuk potensi kebakaran di TPA,” ujar Dede Sudiono.

Menurutnya, TPA menjadi salah satu lokasi dengan tingkat kerawanan paling tinggi saat cuaca ekstrem.

Penyebabnya bukan semata karena aktivitas manusia, tetapi juga berasal dari akumulasi gas metan di dalam timbunan sampah.

Gas metan yang terperangkap dalam tumpukan sampah sangat mudah bereaksi terhadap suhu tinggi. Kondisi itu dapat memicu kebakaran spontan tanpa adanya unsur pembakaran dari luar.

“Selama ini banyak yang menganggap kebakaran di TPA selalu karena dibakar orang. Padahal, timbunan sampah juga bisa terbakar sendiri akibat tingginya kandungan gas metan,” jelas Dede.

Baca Juga:Hasil Lomba Senam Kreasi HUT ke-15 RCTV: Lengko Juara Pertama, 46 Tim Ambil BagianJaspel Medis Nunggak, RSUD Arjawinangun Krisis Dokter Spesialis

Diungkapkannya, suhu udara di Kabupaten Cirebon saat ini berkisar antara 33 hingga 35 derajat Celsius.

Sementara suhu di dalam timbunan sampah diperkirakan jauh lebih tinggi sehingga potensi terjadinya kebakaran meningkat.

Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, DLH menerapkan sistem pengelolaan semi-sanitary landfill.

Melalui metode itu, sampah diratakan dan secara berkala ditutup menggunakan tanah urug agar tinggi timbunan tetap terkendali sekaligus mengurangi ruang terbentuknya gas metan.

Selain itu, petugas juga melakukan penyiraman menggunakan armada truk tangki air. Namun penyiraman dilakukan secara terukur agar suhu timbunan sampah turun tanpa meningkatkan volume air lindi secara berlebihan.

“Penyiraman dilakukan sesuai kebutuhan. Jangan sampai terlalu banyak karena justru bisa meningkatkan air lindi yang berpotensi mencemari lingkungan,” tegasnya.

0 Komentar