Dengan kondisi tersebut, para petani berharap, pemerintah dapat menyiapkan langkah strategis selain sistem pembagian jadwal giliran air. Sehingga, kegiatan tanam pada musim gadu atau musim tanam kedua tetap dapat berjalan dengan baik.
“Karena cuacanya sangat panas, air cepat menguap. Untuk wilayah ini, sekitar 10 hektare sawah terdampak cukup parah. Kami berharap ada solusi lain selain pembagian jadwal giliran air,” pungkasnya. (oni)
