RADARCIREBON.ID- Membeludaknya pasien di berbagai rumah sakit di Kota Cirebon harus mendapatkan perhatian dan penanganan serius. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon pun diminta melakukan konsolidasi dan pemetaan menyeluruh terkait tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di berbagai rumah sakit.
Hal itu dikatakan Asisen Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Cirebon sekaligus Ketua Dewan Pengawas RSD Gunung Jati, Sutikno AP. Sesuai laporan sebelumnya, kata Sutikno, angka BOR rumah sakit umumnya berada di bawah 80 persen, tapi belakangan dilaporkan alami lonjakan kapasitas.
Untuk itu, ia meminta Dinkes Kota Cirebon melakukan pemetaan kondisi keterisian tempat tidur ke seluruh rumah sakit di Kota Cirebon, termasuk rumah sakit swasta. Mengingat fasilitas kesehatan swasta juga melayani peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN-KIS) melalui BPJS Kesehatan.
Baca Juga:Jaga Sawah Jabar-Banten Tetap Produktif, Kementan Bangun 999 Jaringan Irigasi TersierNikmati Pensiun, Purbaya: Saatnya Mancing
“Jadi pemetaan secara komprehensif ini sangat penting. Nanti Dinas Kesehatan yang akan menyurati dan memetakan seluruh rumah sakit, baik milik pemerintah maupun swasta yang ada di Kota Cirebon,” ujar Sutikno, Jumat (18/9/2026).
Menanggapi potensi penambahan fasilitas seperti tempat tidur atau kamar baru, Sutikno menegaskan bahwa langkah tersebut tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Pembukaan fasilitas baru harus melalui proses kredensialing terlebih dahulu dengan BPJS Kesehatan serta memenuhi standar keamanan dan keselamatan pasien.
Secara global, data keterisian tempat tidur pasien sebenarnya telah terhimpun secara real time melalui aplikasi sistem dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes), sehingga rumah sakit yang mengalami lonjakan kapasitas dapat terpantau oleh sistem dan wajib melaporkannya.
Hingga saat ini, sambung Sutikno, pihaknya masih akan melihat dan mengevaluasi data jumlah pasien rawat inap secara menyeluruh sebelum memutuskan adanya rekomendasi penambahan tempat tidur atau ruang perawatan.
Seperti diketahui, salah satu rumah sakit yang alami lonjakan pasien adalah RSD Gunung Jati. Dampaknya, ada pasien yang tak bisa langsung masuk ruang rawat inap. Lonjakan jumlah kunjungan pasien yang signifikan ini terjadi sejak minggu kedua September, tepatnya mulai 7 September. Peningkatan ini didominasi oleh pasien anak berusia 1 hingga 10 tahun dengan keluhan utama demam, batuk, dan flu.
