Dampak El Nino "Godzilla", Petani di Indramayu Berebut dan Mengawal Pasokan Air

Petani indramayu kekeringan
Petani di Blok Sampang, Kecamatan Jatibarang berupaya menyelamatkan benih padi yang siap ditanam dengan mengawal pasokan air ke lahan persawahan, Minggu (19/7).
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Musim kemarau yang berlangsung lebih panjang akibat fenomena El Nino “Godzilla” pada musim tanam gadu (MT II), membuat petani di Kabupaten Indramayu mengalami kesulitan memeroleh pasokan air. Kondisi tersebut terutama dirasakan petani yang memiliki lahan sawah di bagian tengah area persawahan. Sehingga, mereka kesulitan mendapatkan air untuk mengolah lahan maupun memulai masa tanam.

Kondisi itu dialami para petani di Blok Sampang, Kecamatan Jatibarang, yang berbatasan dengan wilayah Kecamatan Indramayu. Mereka harus bekerja lebih keras, bukan hanya untuk memulai musim tanam, tetapi juga rela berjaga sepanjang malam agar aliran air bisa masuk ke lahan sawah mereka.

“Ya harus berjaga, tidak tidur semalaman. Kalau tidak seperti ini, petani yang punya sawah letaknya di tengah, jangan harap kebagian air,” kata Adi (42), petani asal Kecamatan Jatibarang, Minggu (19/7).

Baca Juga:Kekeringan Melanda, Warga Jatitujuh Tempuh 2 Kilometer demi Air BersihPanen Raya Tebu Fase Pertama di Desa Sumber Kulon Majalengka 

Adi mengungkapkan, keterbatasan pasokan air membuat para petani terancam tidak bisa menggarap sawah maupun memulai masa tanam. Pasalnya, saat ini hampir seluruh petani sedang memasuki musim tanam, sehingga kebutuhan air meningkat secara bersamaan.

“Memang ada jadwal giliran air. Tapi sekarang wilayah hulu juga sedang memasuki masa tanam dan sama-sama membutuhkan air. Jadi tetap saja harus berebut antara petani di wilayah hulu dan hilir. Yang paling kasihan itu, petani yang sawahnya berada di tengah atau di ujung. Kalau tidak turun langsung mengawal air, bisa dipastikan lahannya tidak bisa digarap,” ujarnya lagi.

Hal senada disampaikan Harto (50). Ia mengaku rela tidak tidur semalaman demi mendapatkan pasokan air untuk menyelamatkan lahan yang sudah siap ditanami padi. Sepanjang malam, ia harus mengawal aliran air dari saluran irigasi induk agar bisa mencapai sawahnya yang berada di tengah area persawahan Blok Sampang.

“Kalau airnya tidak ditarik menggunakan pompa, air tidak akan naik karena debitnya lebih rendah dari posisi sawah. Jadi, petani harus memakai pompanisasi untuk mengangkat air. Setelah itu, aliran air juga harus terus dikawal. Kalau tidak, airnya akan diambil petani lain yang sawahnya berada di depan, karena sekarang semua sedang membutuhkan air,” ujarnya.

0 Komentar